Showing posts with label Sosiologi. Show all posts
Showing posts with label Sosiologi. Show all posts

Wednesday, March 25, 2020

Status Dan Peranan Struktur Sosial Serta Fungsi Struktur Sosial

Struktur sosial dapat diartikan sebagai tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam suatu masyarakat. Soerjono Soekanto menyebutkan bahwa struktur sosial merupakan hubungan timbal balik antara posisi-posisi sosial dan peranan-peranan sosial. Sesuai dengan sifat manusia yang dinamis, penempatan posisi yang aktual dalam struktur sosial tersebut tidak diberlakukan secara mutlak dan untuk selamanya. Oleh karena struktur sosial hanya mencerminkan pandangan hidup masyarakat pada waktu tertentu. 

Skema dari suatu struktur sosial selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman, kebutuhan, dan pandangan masyarakat tentang nilai-nilai yang ada. Jika struktur sosial tersebut tidak sesuai lagi dengan keadaan masyarakat, maka struktur sosial lama yang sudah tidak sesuai tersebut harus disesuaikan dengan struktur sosial yang baru.

Status dan Peranan Struktur Sosial. Dalam struktur sosial dikenal adanya dua konsep penting, yaitu status dan peranan. Menurut Ralph Linton, yang dimaksud dengan :
  • status adalah suatu kumpulan hak dan kewajiban.
  • peranan adalah aspek dinamis dari status seseorang. 
Selanjutnya Ralph Linton mengklasifikasikan status menjadi dua jenis, yaitu :
  • status yang diperoleh atau ascribed status, merupakan jenis status yang dimiliki oleh individu-individu sejak lahir, tanpa memandang kemampuan atau keahlian tertentu.
  • status yang diraih atau achieved status, merupakan jenis status yang diberikan kepada individu karena ia memiliki kualitas.

Menurut Soerjono Soekanto, bahwa status dan peranan mempunyai arti penting dalam pola-pola hubungan timbal balik individu dan masyarakat. Status dan peranan merupakan unsur-unsur baku dalam sistem lapisan. Dengan status tertentu, seseorang memiliki hak dan kewajiban yang mengarahkan pola-pola perilakunya agar sesuai dengan pola hubungan atau norma yang ditentukan dari status tersebut.

Sedangkan menurut Robert K. Merton, bahwa dalam struktur sosial terdapat beberapa peran yang terkait, yang disebut sebagai perangkat peran atau role set. Perangkat peran adalah pelengkap hubungan peran yang dimiliki oleh seseorang karena menduduki suatu status sosial tertentu. 

Fungsi Struktur Sosial. Pada umumnya dalam sebuah struktur sosial terdapat perilaku-perilaku sosial yang cenderung tetap dan teratur, yang dapat menjadi pembatas perilaku-perilaku individu atau masyarakat. Dalam suatu struktur sosial, individu atau masyarakat akan cenderung menyesuaikan perilakunya dengan keteraturan masyarakatnya. Berkaitan dengan hal tersebut, fungsi utama dari struktur sosial adalah sebagai berikut :
  • Fungsi Kontrol, yaitu sebagai sarana pengontrol individu maupun masyarakat agar tidak melanggar nilai, norma, dan peraturan yang telah disepakati, ditetapkan, dan diterapkan dalam masyarakat. 
  • Fungsi Indentitas, yaitu sebagai penegas identitas yang terdapat dalam suatu masyarakat, terutama dalam kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang sosial, budaya, dan ras yang sama.
  • Fungsi Pembelajaran, yaitu keberadaan struktur sosial akan membuat individu belajar melalui interaksi yang telah tersedia dan berada di dalamnya.

Adapun fungsi struktur sosial dalam kehidupan masyarakat, yaitu sebagai berikut :
  • sebagai pengawas sosial.
  • sebagai karakteristik dari suau kelompok masyarakat.
  • sebagai rantai sistem yang dapat menghubungkan setiap aspek dalam kehidupan masyarakat agar lebih teratur.
  • sebagai dasar penanaman sikap disiplin untuk setiap individu dalam suatu kelompok masyarakat.
  • sebagai instrumen masyarakat yang berperan menjadi penyelenggara dalam penataan kehidupan secara menyeluruh dalam setiap aspek-aspek kehidupan.

Sedangkan Mayor Polak menyebutkan bahwa struktur sosial dapat berfungsi sebagai :
  • pengawas sosial, yaitu sebagai penekan kemungkinan-kemungkinan pelanggaran terhadap norma-norma, nilai, dan peraturan yang berlaku dalam suatu masyarakat.
  • dasar untuk menanamkan suatu disiplin sosial kelompok atau masyarakat. Hal tersebut karena struktur sosial memang berasal dari kelompok atau masyarakat itu sendiri, sehingga dalam proses tersebut individu atau kelompok akan mendapat pengetahuan dan kesadaran tentang sikap, kebiasaan, dan kepercayaan kelompok atau masyarakatnya. 

Dengan demikian, pandangan masa lalu terhadap struktur sosial yang hanya terkonsentrasi pada ciri-ciri restriktif dan membatasi sudah tidak sesuai lagi. Pandangan tersebut merupakan suatu kekeliruan dalam memahami bagaimana kekuatan dan struktur beroperasi dalam kehidupan sosial. A. Giddens menyebutkan bahwa struktur sosial merupakan sumber daya yang bisa memberdayakan tetapi sekaligus juga bisa membatasi masyarakatnya. 


Semoga bermanfaat.

Tuesday, March 24, 2020

Pengertian Sosiologi Komunikasi

Manusia adalah makhluk sosial, yang dalam hidupnya akan senantiasa berinteraksi dengan manusia yang lain. Hubungan interaksi antar manusia tersebut akan membawa pengaruh terhadap kehidupan dan pola hidup manusia itu sendiri. Hal tersebut merupakan bagian dari kajian sosiologi komunikasi.

Sosiologi komunikasi merupakan penggabungan dari dua istilah, yaitu sosiologi dan komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia :
  • sosiologi diartikan dalam dua pengertian, yaitu : 1. sebagai pengetahuan atau atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat. 2. ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya.
  • komunikasi diartikan dalam dua pengertian, yaitu : 1. pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. 2. perhubungan.

Sosiologi, berasal dari bahasa Latin, yaitu "socius" yang berarti masyarakat, dan "logos" yang berarti ilmu. Sehingga sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat. Ilmu sosiologi merupakan perkembangan dari ilmu filsafat sosial, yang kemunculannya hampir bersamaan dengan kemunculan ilmu psikologi. Adalah Herbert Spencer, orang yang pertama mengenalkan dan mempopulerkan istilah sosiologi lewat bukunya yang berjudul "Principles of Sociology". Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, karena telah memenuhi unsur-unsur ilmu pengetahuan, yang memiliki ciri-ciri utama : bersifat empiris, kumulatif, dan non etis.
  • Emile Durkheim, berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yaitu fakta yang mengandung cara bertidak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.
  • Soerjono Soekanto, berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

Komunikasi, berasal dari bahasa Latin, yaitu "communico" yang berarti membagi, atau "communis" yang berarti membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Sebagai suatu disiplin ilmu, pengertian tentang komunikasi telah banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Harold D. Laswell,  berpendapat bahwa komunikasi adalah siapa mengatakan apa, dengan chanel apa, kepada siapa, untuk memperoleh efek apa. Harold D. Laswell menyebutkan dalam komunikasi terdapat lima unsur pokok, yaitu : 1. who ? merujuk pada siapa/sumber. Sumber (komunikator) adalah pelaku utama atau pihak yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. 2. says what ? merujuk pada pesan. Pesan adalah seperangkat simbol baik verbal atau non verbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau ide dari sumber (komunikator) yang akan disampaikan kepada penerima (komunikan). 3. in which channel ? merujuk pada saluran atau media. Saluran atau media adalah alat yang digunakan oleh sumber (komunikator) dalam menyampaikan pesan kepada penerima (komunikan). 4. to whom ? merujuk pada untuk siapa atau penerima. Penerima (komunikan) adalah orang atau kelompok orang yang menerima pesan dari sumber (komunikator). 5. with what effect ? merujuk pada dampak atau efek. Efek adalah dampak yang terjadi pada penerima (komunikan) setelah menerima pesan dari sumber (komunikator).
  • Carl I. Hovland, berpendapat bahwa komunikasi adalah proses merubah perilaku orang lain

Pengertian Sosiologi Komunikasi. Sosiologi komunikasi merupakan bagian cabang dari ilmu sosial yang memusatkan perhatiannya kepada proses interaksi sosial dalam masyarakat. Secara umum, sosiologi komunikasi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang ilmu komunikasi ditinjau dari segi sosiologis atau kemasyarakatan. Sedangkan menurut pendapat dari :
  • Soerjono Soekanto, menjelaskan bahwa sosiologi komunikasi adalah kekhususan sosiologi dalam mempelajari interaksi sosial, yaitu suatu hubungan atau komunikasi yang menimbulkan proses saling pengaruh mempengaruhi antara para individu, individu dengan kelompok, maupun antar kelompok.
  • Erving Goffman, menjelaskan bahwa sosiologi komunikasi adalah cabang dari ilmu sosiologi yang khusus memberikan pengetahuan tentang cara berkomunikasi dalam masyarakat, yang diharapkan dapat menopang dan menghindari bentuk gejala sosial yang bersifat negatif.
  • Denis McQuail, menjelaskan bahwa sosiologi komunikasi adalah bentuk hubungan interaksi sosial dalam masyarakat yang cakupannya luas, seperti halnya menggunakan media massa, di mana hubungan tersebut berlangsung dalam jangka waktu tertentu sehingga menjadi sangat berpengaruh dalam masyarakat. 
  • Stephen F. Steele, menjelaskan bahwa sosiologi komunikasi adalah studi yang mempelajari perilaku kolektif akibat media.
  • Liliwery, menjelaskan bahwa sosiologi komunikasi dapat diartikan dalam dua pengertian, yaitu dalam arti luas (makro) dan dalam arti sempit (mikro). Dalam arti luas (makro), sosiologi komunikasi adalah cabang dari sosiologi yang mempelajari atau menerangkan mengenai prinsip-prinsip keilmuan (ilmu sosial, sosiologi) tentang bagaimana proses komunikasi manusia dalam kelompok atau masyarakat. Sedangkan dalam arti sempit (mikro), sosiologi komunikasi adalah cabang dari sosiologi yang mempelajari atau yang menerangkan mengenai prinsip-prinsip keilmuan (ilmu sosial, sosiologi) tentang bagaimana proses komunikasi manusia dalam konteks komunikasi massa dari suatu masyarakat.

Ilmu sosiologi komunikasi juga :
  • berkaitan dengan public speaking, yaitu bagaimana seseorang berbicara kepada publik.
  • mengajari konsep-konsep yang ada dalam masyarakat seperti interaksi, hubungan, maupun segala sesuatu yang terjadi dalam lingkungan masyarakat.
  • mempelajari pengertian sebagaimana yang ada pada ilmu komunikasi untuk memudahkan kita dalam menanggapi berbagai karakter yang ada dalam masyarakat.

Sejarah Lahirnya Sosiologi Komunikasi. Kajian komunikasi dalam sosiologi berawal dari pemikiran Karl Max, seorang sosiolog dari Jerman. Selanjutnya, sosiologi komunikasi berkembang melalui dua jalur, yaitu :
  • kajian dan sumbangan pemikiran dari Karl Marx dan Jurgen Habermas yang berupa pendekatan paradigma konflik bagi lahirnya teori-teori kritis dalam kajian komunikasi.
  • kajian dan sumbangan pemikiran dari Auguste Comte, Talcott Parson, dan Robert K. Merton yang berupa pendekatan paradigma fungsional bagi lahirnya teori-teori komunikasi yang beraliran struktural fungsional.

Sosiologi komunikasi lahir dari perkembangan ilmu sosiologi. Sosiologi yang memang sejak semula menaruh perhatian pada masalah-masalah yang ada hubungannya dengan interaksi sosial antara seseorang dengan orang lainnya, yang oleh Auguste Comte disebut sebagai "social dynamix", oleh Emile Durkheim disebut sebagai "kesadaran kolektif", oleh Karl Marx disebut sebagai "interaksi sosial", dan oleh Jurgen Habermas disebut sebagai "tindakan komunikatif" dan "teori komunikasi" merupakan awal mula lahirnya perspektif sosiologi komunikasi. 

Bentuk Sosiologi Komunikasi. Laju perkembangan jaman dan teknologi informasi telah memberikan dampak dan perubahan yang sangat besar di dalam kehidupan masyarakat.  Sebagai contoh adalah media massa yang telah mempengaruhi pola hidup bermasyarakat, yaitu telah membawa perubahan pada kompleksitas sosiologi komunikasi yang semakin menurun, karena pada dasarnya kompleksitas sosiologi komunikasi didasarkan pada tegur sapa atau hidup berdampingan dengan masyarakat di sekitar kita. Pada umumnya, sosiologi komunikasi berbentuk beberapa jenis, yaitu : 
  • komunikasi antar pribadi, yang merupakan bentuk komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi, baik yang terjadi secara langsung ataupun tidak langsung. 
  • komunikasi organisasi, yang merupakan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jaringan organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk-bentuk komunikasi antar pribadi dan komunikasi kelompok. 
  • komunikasi massa, yang merupakan bentuk komunikasi yang berlangsung pada tingkat masyarakat luas. Pada tingkat ini, komunikasi dilakukan dengan menggunakan media massa.  
  • komunikasi kelompok, yang merupakan bentuk komunikasi yang memfokuskan pembahasannya pada interaksi di antara orang-orang dalam kelompok-kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi antar pribadi.
  • komunikasi sosial, yang merupakan bentuk komunikasi yang lebih intensif, di mana komunikasi terjadi secara langsung antara komunikator dan komunikan, sehingga situasi komunikasi berlangsung dua arah dan lebih diarahkan kepada pencapaian suatu situasi integrasi sosial, yang melalui kegiatan tersebut terjadilah aktualisasi dari berbagai masalah-masalah yang dibahas.
Banyak manfaat yang dapat diambil saat mempelajari sosiologi komunikasi. Dengan mempelajari sosiologi komunikasi kita akan mengerti dan paham terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perubahan sosial, dengan demikian kita bisa menyelaraskan diri dengan kehidupan bersosial dengan masyarakat dan lingkungan tempat kita tinggal.

Semoga bermanfaat.

Monday, March 23, 2020

Teori Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya (cross cultural communication) oleh Hafied Cangara diartikan sebagai proses di mana suatu ide diberikan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku mereka. Pada prinsipnya, komunikasi lintas budaya merupakan kajian komunikasi yang berfokus pada perbandingan praktik-praktik komunikasi yang terjadi di berbagai budaya.

Pada hakekatnya, komunikasi lintas budaya merupakan : 
  • komunikasi yang dilakukan oleh dua kebudayaan atau lebih.
  • komunikasi yang dilakukan sebagai akibat dari terjalinnya komunikasi antar unsur kebudayaan itu sendiri, seperti komunikasi antar masyarakatnya.

Teori Komunikasi Lintas Budaya. Teori komunikasi lintas budaya merupakan teori-teori yang secara khusus menggeneralisasi konsep komunikasi di antara komunikator dengan komunikan yang berbeda kebudayaan. Teori komunikasi lintas budaya juga membahas tentang pengaruh kebudayaan terhadap kegiatan komunikasi.  Menurut Alo Liliweri, terdapat tiga sumber yang digunakan untuk menggeneralisasi teori lintas budaya, yaitu :
  • Teori-teori komunikasi antar budaya yang dibangun akibat perluasaan teori komunikasi yang secara khusus dirancang untuk menjelaskan komunikasi intra/antar budaya.
  • Teori-teori baru yang dibentuk dari hasil-hasil penelitian khusus dalam bidang komunikasi antar budaya.
  • Teori-teori komunikasi antar budaya yang diperoleh dari hasil generalisasi teori ilmu lain, termasuk proses sosial yang bersifat isomorfis.

Beberapa teori yang dikenal dalam komunikasi lintas budaya adalah sebagai berikut :

1. Anxiety/Uncertainty Management Theory.
Anxiety/uncertainty management theory atau teori pengelolaan kecemasan/ketidak-pastian, dikemukakan oleh William Gudykunst. Teori ini memfokuskan perhatiannya kepada perbedaan budaya yang terdapat dalam suatu kelompok orang asing. Teori ini muncul dari keyakinan William Gudykunst  bahwa kecemasan dan ketidakpastian adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antar kelompok. Kecemasan dan ketidakpastian sebagai penyebab kegagalan komunikasi adalah :
  • kecemasan yang bersifat afeksi suatu emosi, dan ;
  • ketidakpastian yang bersifat kognitif.
William Gudykunst  berpendapat bahwa teori yang dikemukakannya tersebut dapat digunakan pada segala situasi di mana terdapat perbedaan di antara keraguan dan ketakutan.  
Konsep dasar anxiety/uncertainty management theory adalah sebagai berikut :
  • konsep diri dan diri. Meningkatnya harga ketika berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan.
  • motivasi untuk berinteraksi dengan orang asing. Meningkatnya kebutuhan diri untuk masuk dalam kelompok saat berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatkan kecemasan.
  • reaksi terhadap orang asing. Suatu peningkatan dalam kemampuan untuk memproses informasi yang kompleks, mentoleransi saat berinteraksi, dan berempati dengan orang asing, akan menghasilkan suatu peningkatan kemampuan untuk memprediksi secara tepat perilaku orang asing. 
  • kategori sosial dari orang asing. Suatu peningkatan kesamaan personal yang kita persepsi antara diri kita dan orang asing, akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan kita dan kemampuan memprediksi secara akurat perilaku orang asing. Suatu peningkatan kesadaran terhadap pelanggaran orang asing dari harapan positif atau harapan negatif kita, akan menghasilkan peningkatan kecemasan kita dan akan menghasilkan penurunan rasa percaya diri dalam memprediksi perilaku orang asing.
  • proses situasional. Suatu peningkatan di dalam situasi informal di mana sedang berkomunikasi dengan orang asing, akan menghasilkan suatu penurunan kecemasan dan suatu peningkatan rasa percaya diri terhadap perilaku orang asing.
  • koneksi dengan orang asing. Suatu peningkatan di dalam rasa ketertarikan dan jaringan kerja dengan orang asing, akan  menghasilkan penurunan kecemasan dab peningkatan rasa percaya diri dalam memprediksi perilaku orang asing.

2. Face Negotiation Theory.
Face negotiatian theory atau teori negosiasi wajah dikemukakan oleh Stella Ting Toomey. Teori ini menjelaskan tentang perbedaan-perbedaan budaya dalam merespon konflik. Stella Ting Toomey berasumsi bahwa orang-orang dalam setiap budaya akan selalu "negotiating face". Istilah tersebut merupakan metaphora citra diri publik kita, yaitu cara kita menginginkan orang lain melihat dan memperlakukan diri kita. Postulat fasce negotiation theory adalah "face work" (yang merujuk pada pesan verbal dan non verbal yang menjaga membantu dan menyimpan rasa malu/"face loss", dan menegakkan muka terhormat) orang-orang dari budaya individu akan berbeda dengan budaya kolektivis.
Face negotiation theory menawarkan beberapa model pengelolaan konflik, yaitu sebagai berikut :
  • avoiding (penghindaran), yaitu menghindari diskusi mengenai perbedaan-perbedaan dengan anggota kelompok.
  • obliging (keharusan), yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan anggota kelompok.
  • compromising (kompromi), yaitu memberi atau menerima sedemikian rupa sehingga tercapai suatu kompromi.
  • dominating (dominasi), yaitu memastikan penanganan isu sesuai dengan kehendak sendiri.
  • integrating (integrasi), yaitu membicarakan atau mendiskusikan dengan anggota kelompok suatu permasalahan atau suatu informasi yang masuk sehingga menghasilkan suatu solusi.
Face negotiation theory menyatakan bahwa avoiding, obliging, compromising, dominating, dan integrating bertukar-tukar menurut campuran perhatian mereka untuk 'self face' dan 'other face'.

3. Expectancy Violations Theory.
Expectancy violations theory mencoba menguraikan perilaku manusia yang tidak terduga saat mereka berinteraksi. Teori ini menitik-beratkan pada proses komunikasi yang dipengaruhi oleh norma serta budaya yang dianut dan dijadikan sebagai patokan. Adanya pelanggaran terhadap norma dan budaya yang dianut dapat menimbulkan persepsi positif atau negatif, sehingga seseorang akan bersikap hati-hati terhadap orang lain. 
Expectancy violations theory bergantung pada jarak dan ruang. Hal ini dikarenakan manusia cenderung mengatur jarak dan ruang sebagai cara untuk mengungkapkan tingkat kedekatan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Dalam teori ini, dijelaskan bahwa manusia cenderung untuk melindungi jarak dan ruang mereka saat harapan mereka mengalami pelanggaran.

4. Conversational Theory.
Conversational theory dikemukakan oleh Min Sun Kim. Teori ini mencoba untuk menjelaskan perbedaan strategi percakapan yang dimiliki oleh masing-masing budaya dan dampak yang ditimbulkan oleh perbedaan tersebut. Conversational theory menggunakan pendekatan ilmu komunikasi sosial yang memandang bahwa budaya mempengaruhi komunikasi.

5. Speech Codes Theory.
Speech codes theory atau teori kode bicara dikemukakan oleh Gerry Philipsen. Teori ini berusaha untuk menjawab tentang keberadaan 'speech code' dalam suatu budaya, serta bagaimana substansi dan kekuatannya dalam sebuah budaya. Gerry Philipsen menyampaikan proposisi-proposisi sebagai berikut :
  • di manapun ada sebuah budaya, di situ ditemukan 'speech code' yang khas.
  • sebuah 'speech code' mencakup retorikal, psikologi, dan sosiologi budaya.
  • pembicaraan yang signifikan bergantung 'speech code' yang digunakan pembicara dan pendengan untuk mengkreasi dan menginterpretasi komunikasi mereka.
  • istilah, aturan, dan premis terkait ke dalam pembicaraan itu sendiri.
  • kegunaan suatu 'speech code' bersama adalah menciptakan kondisi memadai untuk memprediksi, menjelaskan, dan mengontrol formula wacana tentang intelijenitas, prudens/bijaksana, dan moralitas dari perilaku komunikasi.

6. Teori Akomodasi Komunikasi.
Teori akomodasi komunikasi menitik-beratkan pda strategi individu untuk mengurangi atau menambah jarak komunikatif yang bergantung pada norma dan budaya yang dianut. Teori akomodasi komunikasi menguraikan kecenderungan manusia untuk menyesuaikan perilaku saat mereka berinteraksi. Terdapat dua jenis proses akomodasi yang dijelaskan dalam teori ini, yaitu :
  • konvergen, yaitu proses di mana orang cenderung untuk beradaptasi dengan karakteristik komunikasi orang lain untuk mengurangi perbedaan sosial.
  • divergen, yaitu proses di mana orang cenderung menekankan pada perbedaan sosial dan perbedaan non verbal yang ada.

Semoga bermanfaat.

Sunday, September 8, 2019

Fungsi Dan Tujuan Komunikasi Antar Budaya, Serta Hambatan Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi antar budaya adalah suatu proses komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, baik itu berbeda ras, etnik, sosio ekonomi, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam buku "Intercultural communication : A Reader" dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (interculture communication) adalah interaksi antar pribadi antara seorang anggota dengan kelompok yang berbeda kebudayaan. Komunikasi antar budaya terjadi apabila sebuah pesan yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk dikonsumsi anggota dari budaya yang lain.

Edward T. Hall menyebutkan bahwa 'komunikasi adalah budaya' dan 'budaya adalah komunikasi'. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasipun turut menentukan, memelihara, mengembangkan, dan mewariskan budaya. Hal tersebut berarti :
  • komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik secara horizontal, dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya ataupun secara vertikal dari suatu generasi ke generasi berikutnya.
  • budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai untuk kelompok tertentu.

Fungsi atau Manfaat Komunikasi Antar Budaya. Komunikasi antar budaya mempunyai beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut :

1. Fungsi Pribadi.
Fungsi pribadi merupakan fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu. Fungsi pribadi tersebut meliputi :
  • menyatakan identitas sosial. Dalam komunikasi antar budaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas diri maupun identitas sosial. Perilaku tersebut dinyatakan melalui tindakan berbahasa baik verbal maupun non verbal. Dari perilaku berbahasa tersebut dapat diketahui indentitas diri maupun identitas sosial.
  • menyatakan integrasi sosial. Dalam komunikasi antar budaya, integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antar pribadi, antar kelompok tapi teta mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Dalam komunikasi antar budaya yang melibatkan perbedaan budaya antara komunikator dan komunikan, integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi.
  • menambah pengetahuan. Dalam komunikasi antar budaya terjadi saling mempelajari kebudayaan antara individu atau kelompok yang satu dengan indvidu atau kelompok yang lain, sehingga hal tersebut dapat menambah pengetahuan masing-masing individu atau kelompok.
  • melepaskan diri atau jalan keluar. Terkadang dalam berkomunikasi, seorang individu ingin melepaskan diri atau mencari jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi.

2. Fungsi Sosial.
Fungsi sosial dalam komunikasi antar budaya meliputi :
  • pengawasan. Dalam komunikasi antar budaya, fungsi pengawasan  bermanfaat untuk menginformasikan perkembangan tentang lingkungan. Fungsi pengawasan dalam komunikasi antar budaya banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarluaskan secara rutin perkembangan peristiwa di sekitar kita.
  • menjembatani. Dalam komunikasi antar budaya, fungsi menjembatani ini akan mempertemukan dua individu atau kelompok yang berbeda budaya, sehingga tujuan dari komunikasi dapat tercapai.
  • sosialisasi nilai. Dalam komunikasi antar budaya, fungsi sosialisasi akan mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya. 
  • menghibur. Dalam komunikasi antar budaya, seringkali ditemui fungsi menghibur, misalnya ketika seseorang individu memanfaatkan waktu luangnya untuk mendatangi suatu pertunjukan, bioskop, teater, dan lain-lain. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antar budaya.

Tujuan Komunikasi Antar Budaya. Komunikasi antar budaya yang dilakukan mempunyai banyak tujuan, diantaranya adalah sebagai berikut :
  • memahami perbedaan budaya yang mempengaruhi praktek komunikasi.
  • memperluas komunikasi antar individu yang berbeda budaya.
  • mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang muncul dalam komunikasi.
  • membantu mengatasi masalah komunikasi yang disebabkan oleh perbedaan budaya.
  • meningkatkan keterampilan verbal dan non verbal dalam komunikasi.
  • menjadikan individu-individu mampu berkomunikasi secara efektif.
  • meningkatkan pengetahuan tentang diri sendiri dengan menjelaskan perilaku-perilaku komunikatif.
  • meningkatkan pengetahuan tentang individu lain dan budaya lain.
  • meningkatkan pengetahuan tentang kemajuan informasi dan teknolgi.
Tujuan komunikasi antar budaya akan tercapai apabila terjadi saling pengertian di antara komunikator dan komunikan, sehingga tercipta sebuah komunikasi yang efektif.

Hambatan Komunikasi Antar Budaya. Chaney dan Martin menyebutkan bahwa terdapat sembilan hambatan dalam komunikasi antar budaya, yaitu :
  • Fisik (Physical), yaitu hambatan komunikasi yang berasal dari waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.
  • Budaya (Cultural), yaitu hambatan komunikasi yang berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.
  • Persepsi (Perceptual), yaitu hambatan komunikasi yang muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal, sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda.
  • Motivasi (Motivational), yaitu hambatan komunikasi yang muncul berkaitan dengan tingkat motivasi pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima atau tidak pesan tersebut. 
  • Pengalaman (Experiantial), yaitu hambatan komunikasi yang terjadi karena tidak adanya pengalaman hidup yang sama di antara individu yang terlibat dalam komunikasi, sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu.
  • Emosi (Emotional), yaitu hambatan komunikasi yang berkaitan dengan perasaan pribadi dari pendengar. Jika emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
  • Bahasa (Linguistic), yaitu hambatan komunikasi yang terjadi apabila pengirim pesan dan penerima pesan menggunakan bahasa yang berbeda atau dengan menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.
  • Non verbal, yaitu hambatan komunikasi yang disebabkan oleh hal-hal lain selain dari bahasa atau kata-kata. 
  • Kompetisi (Competition), hambatan komunikasi yang muncul apabila komunikan mendengarkan informasi atau pesan dari komunikator sambil melakukan kegiatan lain.

Semoga bermanfaat.

Monday, September 2, 2019

Obyek Formal Sosiologi Komunikasi Serta Teori Dalam Sosiologi Komunikasi

Sosiologi komunikasi merupakan bagian cabang dari ilmu sosial yang berfokus pada proses interaksi sosial dalam masyarakat. Interaksi sosial yang terjadi akan menghasilkan bentuk keteraturan sosial yang berkesinambungan. Interaksi sosial terjadi karena adanya komunikasi, yang di dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk komunikasi, yaitu :
  • komunikasi antar pribadi.
  • komunikasi kelompok.
  • komunikasi organisasi.
  • komunikasi sosial.
  • komunikasi massa.

Obyek Formal Sosiologi Komunikasi. Setiap bidang ilmu dalam rumpun ilmu sosial memiliki obyek kajian formal yang sama, yaitu manusia. Obyek formal manusia yang dimaksud adalah dalam konteks individu, kelompok, masyarakat, dunia, serta aspek-aspek sosiologis yang mengitarinya. Obyek formal dalam studi sosiologi komunikasi menekankan pada :
  • aspek aktivitas manusia sebagai makhluk sosial yang melakukan aktivitas sosiologis, yaitu proses sosial dan komunikasi. Aspek ini merupakan aspek dominan dalam kehidupan manusia bersama orang lain.
  • aspek telematika dan realitasnya. Aspek ini menyangkut persoalan teknologi media, teknologi komunikasi, dan berbagai persoalan konvergensi yang ditimbulkannya termasuk realitas maya yang dihasilkan oleh telematika sebagai sebuah ruang publik baru yang tanpa batas dan memiliki masa depan yang cerah bagi ruang kehidupan.

Teori Dalam Sosiologi Komunikasi. Terdapat beberapa teori yang digunakan dalam analisis sosiologi terhdap proses komunikasi, di mana relevansi dari masing-masing teori sangat tergantung pada fokus pembahasannya. Beberapa teori tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Teori Evolusi Sosial. Teori evolusi sosial melihat komunikasi sebagai bentuk interaksi antar amnusia yang mengalami evolusi.
  • Teori Struktural Fungsionalisme. Teori struktural fungsionalisme melihat proses komunikasi sebagai bagian dari sistem dan struktur sosial. Komunikasi merupakan sarana aktor sosial dalam mencapai konsensus sehingga sistem sosial berfungsi sebagai msetinya. Teori struktural fungsionalisme tidak bersifat historis dan tidak mengikuti perkembangan suatu gejala sosial. 
  • Teori Interaksionisme Simbolik. Teori interaksionisme merupakan perkembangan dari teori yang dikemukakan oleh George Herbert Mead. Teori ini menegaskan bahwa perilaku manusia dapat diuraikan secara memadai dengan hanya menggunakan skema-skema determinitis seperti skema stimulus respons dari behaviorisme dan independen. Teori ini melihat komunikasi sebagai bagian dari perilaku sosial yang mengandung makna sosial. Tokoh dari teori interaksionisme adalah Herbeart Blumer.
  • Teori Perilaku. Teori perilaku muncul dalam rangka penerapan prinsip-prinsip psikologi perilaku ke dalam sosiologi. Teori ini melihat komunikasi sebagai proses sosial yang ditentukan oleh unsur-unsur psikologis dan emosional. 
  • Teori Pertukaran. Teori pertukaran muncul sebagai akibat adanya reaksi terhadap paradigma fakta sosial. Teori pertukaran melihat komunikasi sebagai proses interaksi yang dibentuk oleh pertukaran antara aktor dengan lingkungannya. Reaksi dari lingkungan menentukan tindakan sosial yang diambil.
  • Teori Konflik. Teori konflik muncul sebagai akibat adanya masyarakat yang berada dalam proses perubahan dan ditandai oleh pertentangan terhadap unsur-unsurnya. Teori ini melihat komunikasi sebagai elemen yang mengandung kepentingan. Komunikator merupakan aktor yang menyampaikan kepentingannya. Teori konflik mengasumsikan bahwa kepentingan diekspresikan melalui komunikasi.
  • Teori Aksi. Teori aksi muncul sebagai akibat adanya tindakan dari kesadaran manusia sebagai subyek dan dari situasi eksternal sebagai obyek. Teori aksi melihat komunikasi sebagai inisiasi aktor untuk menyampaikan pesan kepada aktor lain. Asumsi dasar teori ini adalah individu memiliki kemauan dan ruang untuk bertindak dalam rangka menyampaikan gagasan dan pengetahuannya.
  • Teori Fenomenal. Teori fenomenal muncul dari tindakan manusia yang menjadi suatu hubungan sosial jika manusia memberikan arti atau makna tertentu terhadap tindakan tertentu dan manusia lain memahami pula tindakannya itu sebagai suatu yang penuh arti.
  • Teori Dramaturgis. Teori dramaturgis melihat komunikasi sebagai gejala sosial yang ditentukan oleh setting dan audiens. 

Paradigma Sosiologi Komunikasi. Paradigma sosiologi komunikasi merupakan suatu aliran pemikiran di mana sosiologi sebenarnya telah mengkaji masalah komunikasi dalam teori-teorinya. Paradigma sosiologi komunikasi tersebut diantaranya adalah :
  • paradigma teori konvensional, yang banyak dianut oleh para pakar komunikasi untuk mengembangkan teorinya.
  • paradigma teknologi media, yang muncul sebagai akibat dari peminat teknologi telematika.
  • paradigma kritis dan komunikasi, yang dianut oleh para sarjana yang pada awalnya belum mempelajari teori komunikasi kemudian secara serius mempelajari komunikasi secara kritis dan menurut perspektif komunikasi yang dilihatnya.

Semoga bermanfaat

Sunday, August 18, 2019

Definisi Perkumpulan Sosial dan Komunitas Menurut Ilmu Sosiologi Antropologi

Dalam ilmu sosiologi, terdapat bab yang membahas mengenai sebuah perkumpulan atau komunitas. Pada postingan kali ini, akan dibahas mengenai definisi dari perkumpulan sosial, komunitas, golongan sosial, kategori sosial, karakteristik masyarakat pedesaan dan perkotaan, serta masyarakat tradisional dan modern.
Untuk lebih jelasnya, mari simak penjelasannya pada artikel di bawah ini.


  1. Perkumpulan sosial.
    Adalah suatu kelompok yang sengaja dibentuk oleh masyarakat sebagai tempat melaksanakan aktivitas dan mencapai tujuan bersama. Perkumpulan social disebut juga sebagai kelompok asosiasi atau organisasi formal / resmi yang keberadaannya diakui oleh masyarakat. Contoh : PSSI, PGRI IDI, dsb.

  2. Komunitas
    Komunitas adalah suatu kelompok yang menunjukkan adanya kesamaan kriteria social sebagai ciri khas keanggotaan seperti kesamaan tempat / daerah, kesamaan profesi, kesamaan hobby, dsb. Contoh : kelompok warga desa, kelompok karyawan pabrik, kelompok petani.

  3. Golongan sosial
    Adalah suatu kesatuan manusia yang ditandai oleh suatu ciri tertentu dan mempunyai ikatan identitas social. Identitas social tumbuh dan berkembang sebagai respon terhadap pihak luar ketika memandang golongan social tsb. Contoh : Golongan muda, golongan tua, golongan kulit putih, golongan masyarakat kaya, dsb.

  4. Kategori sosial
    Adalah kesatuan manusia yang terbentuk karena mempunyai ciri-ciri obyektif yang biasanya dikenakan oleh pihak luar dengan maksud tertentu. Contoh : kategori masyarakat miskin, kategori masyarakat kaya, kategori anak-anak, kategori remaja, dsb.

  5. Masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan
    Masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang berada di daerah pedesaan. Sedangkan masyarakat perkotaan masyarakat yang berada di daerah perkotaan. Pola hidup masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan berbeda dalam berbagai aspek kehidupannya.

  6. Masyarakat tradisional dan masyarakat modern.
    Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang tingkat kehidupannya masih rendah dengan pola hidup yang sederhana. Sedangkan masyarakat modern masyarakat yang tingkat kehidupannya sudah maju dengan pola hidup yang berwawasan ke depan.
Demikian tadi adalah penjelasan mengenai perkumpulan sosial dan komunitas. Jika anda menyukai artikel ini, silahkan subscribe blog ini untuk mengikuti postingan materi pelajaran lainnya.
Semoga bermanfaat.

Definisi Masyarakat Multikultural dan Sifat-sifatnya

Indonesia adalah negara majemuk. Nah, di dalam negara majemuk, terdapat banyak kultur atau budaya yang tersebar di seluruh daerah pada negara tersebut. Berikut akan dijelaskan mengenai apa itu arti dari masyarakat multikultural beserta sifat-sifat masyarakat multikultural.
Untuk lebih jelasnya, yuk simak artikelnya dibawah ini.


Pengertian masyarakat multicultural:
  1. Masyarakat multicultural adalah masyarakat yang terdiri dari beragam suku bangsa dan budaya.
  2. Menurut Furnival, masyarakat multicultural adalah masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih kelompok yang secara cultural dan ekonomi terpisah-pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda satu sama lain.
Sifat-sifat masyarakat multicultural menurut Pierre L. Van den Berghe :
Berikut ini adalah penjelasan mengenai beberapa sifat-sifat masyarakat multikultural menurut Pierre L. Van den Berghe.
  1. Terjadi segmentasi ke dalam bentuk-bentuk kelompok sub kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
  2. Memiliki struktur social yang terbagi-bagi dalam lembaga yang bersifat nonkomplementer.
  3. Kurang mengembangkan konsensus di antara anggota terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar.
  4. Integrasi social tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan dalam bidang ekonomi.
  5. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok lainnya.
Tiga factor utama terbentuknya masyarakat Indonesia yang multicultural

  1. Latar belakang historis.
  2. Kondisi geografis.
  3. Keterbukaan terhadap kebudayaan luar.

Nah, demikian tadi adalah penjelasan mengenai pengertian masyarakat multikultural dan sifat-sifat masyarakat multikultural. Selain penjelasan di atas, masih ada lagi yang lainnya. So, jangan jadikan ini sebagai acuan satu-satunya ya..
Semoga bermanfaat.

Saturday, March 15, 2014

Definisi Struktur Sosial - Materi Sosiologi

Definisi Struktur Sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam suatu masyarakat. Dalam hal ini struktur sosial dapat horizontal maupun vertikal susunannnya.Contoh struktur sosial yang Horizontal adalah kelompok pria dan kelompok wanita, atau kelompok orang beragama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu. Cirinya masing-masing dalam kelompok tersebut tidak bertingkat, artinya di masyarakat kedudukannya sama. Sedangkan contoh Sruktur sosial yang vertikal adalah kelompok orang kaya dan kelompok orang miskin, hal ini jelas menunjukkan kedudukan yang berbeda dalam masyarakat. Orang kaya berada di tempat yang lebih tinggi daripada orang miskin.


Struktur sosial muncul karena adanya dua unsur berikut yaitu : 
  1. individu, dalam hal ini individu adalah sebagai pembentuk masyarakat sekaligus pembentuk struktur sosial, Jika tidak ada individu-individu maka tidak mungkin ada masyarakat
  2. interaksi, interaksi antar individu dalam masyarakat akan membentuk struktur sosial, tanpa adanya interaksi maka struktur sosial tidak mungkin terbentuk
Ciri-ciri Struktur Sosial :
  1. Muncul pada kelompok masyarakat
  2. Berkaitan erat dengan kebudayaan
  3. dapat berubah dan berkembang
Fungsi Struktur Sosial ada 3 yaitu :
  1. Fungsi identitas, yaitu sebagai penegas identitas yang dimiliki suatu kelompok
  2. Fungsi kontrol yaitu untuk mengontrol individu yang berada dalam struktur sosial tertentu
  3. Fungsi pembelajaran, yaitu dengan adanya struktur sosial individu dapat belajar melalui interaksi yang terjadi di dalamnya

Thursday, March 13, 2014

Bentuk-bentuk Struktur Sosial - Materi Sosiologi

Bentuk-bentuk struktur sosial ada 2 yaitu

1. Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial adalah struktur dalam masyarakat yang membagi masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan. Adapun kriteria yang dipakai seperti tingkat pendidikan, kekayaan atau kekuasaan. Munculnya stratifikasi sosial menurut Cuber disebabkan karena adanya perbedaan hak-hak individu, sedangkan Max Weber menyebutkan bahwa penyebab terjadinya stratifikasi sosial adalah kekuasaan, hak istimewa dan prestis.


Stratifikasi sosial ada 2 macam yaitu :

a. stratifikasi sosial tertutup adalah stratifikasi sosial yang tidak memungkinkan adanya perpindahan posisi atau terjadinya mobilitas sosial, contoh stratifikasi sosial dalam kasta, tidak mungkin Brahmana pindah menjadi Sudra dan sebaliknya

b. stratifikasi sosial terbuka adalah stratifikasi yang memungkinkan adanya mobilitas sosial baik vertikal naik maupun turun, misalnya seorang buruh berubah menjadi pengusaha atau sebaliknya pengusaha sukses yang bangkrut kemudian berubah menjadi buruh

c. stratifikasi sosial campuran adalah stratifikasi sosial yang terjadi akibat bertemunya stratifikasi sosial terbuka dengan stratifikasi sosial tertutup

2.Diferensiasi Sosial
Diferensiasi sosial adalah klasifikasi atau penggolongan masyarakat berdasarkan perbedaan-perbedaan tertentu yang biasanya sejajar atau sama. Adapun jenis diferensiasi sosial menurut kategorinya dibedakan menjadi:
a. diferensiasi ras
b. diferensiasi suku bangsa
c. diferensiasi klen
d. diferensiasi agama
e. diferensiasi profesi/pekerjaan
f. diferensiasi jenis kelamin

Tuesday, March 11, 2014

Materi Sosioligi | Konflik Sosial

Pengertian Konflik
Konflik adalah suatu kondisi dimana terjadi ketidaksamaan persepsi, pandangan, perspektif antara satu pihak dengan pihak lainnya kemudian masing-masing pihak tersebut berusaha membenarkan pendapatnya dengan cara menyingkirkan pihak lawannnya.


Di dalam konflik yang namanya perasaan, amarah, dendam, rasa benci akan mempertajam perbedaan-perbedaan yang memang tidak bisa disangkal keberadaaannya. Adapun penyebab konflok menurut Soerjono Soekanto adalah sebagai berikut :
  1. perbedaan antar individu
  2. perbedaan kebudayaan
  3. perbedaan kepentingan
  4. perbedaan sosial
Sedangkan bentuk-bentuk konflik jika dilihat dari yang terlibat di dalamnya adalah :
  1. konflik pribadi
  2. konflik antar kelompok
  3. konflik antar etnis
  4. konflik antar negara
Sedangkan dampak positif konflik antara lain :
  1. meningkatkan solidaritas kelompok (in group solidarity)
  2. menciptakan integrasi yang harmonis
  3. memperkuat identitas pihak yang berkonflik
  4. menciptakan kelompok baru
  5. membuka wawasan
 Sedangkan dampak negatif dari konflik antara lain :
  1. rusaknya fasilitas umum
  2. terjadinya korban jiwa, harta dan benda
  3. terjadinya disintegrasi bangsa

Monday, March 10, 2014

Konsep Dasar Sosiologi | Materi Sosiologi

Beberapa konsep dasar sosiologi menurut para sosiolog:
  1. G.A. Lunberg : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku sosial orang-seorang dan kelompok.
  2. Roucek and Warren : Sosialogi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal-balik antar manusia dalam masyarakat.
  3. Bierens De Haan : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari pergaulan hidup manusia dalam masyarakat.
  4. Prof. Selo Soemardjan : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial,proses sosial, dan perubahan-perubahan sosial.Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok,yaitu kaidah-kaidah sosial,lembaga-lembaga sosial,kelompok-kelompok sosial,dan lapisan soial.Proses sosial adalah pengaruh timbal-balik dari berbagai segi kehidupan sosial (ekonomi dan politik,hukum,dan agama).
  5. Pitirim A.Sorokin : Sosialogi adalah ilmu yang me,pelajari hubungan dan pengaruh timbalbalik antara aneka macam gejala sosial,hubungan dan pengaruh gejala sosial dengan nonsosial,dan ciri-ciri umum dari semua jenis gejala sosial.
  6. Auguste Comte (Bapak Sosiologi) : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat (antarndividu,antar individu dan kelompok,dan antara kelompok dan kelompok.
  7. Anthony Giddens : Sosiologi adalah studi tentang kehidupan sosial antar manusia,kelompok, dan masyarakat.

Ciri-ciri pokok sosiologi sebagai berikut:
  1. Sosiologi bersifat empiris,artinya didasarkan pada observasi-observasi segala kenyataan di masyarakat.
  2. Sosiologi bersifat teoritis,artinya merupakan abstraksi dari hasil-hasil observasi yang menjelaskan hubungan kausalitas.
  3. Sosiologi bersifat kumulatif,artinya teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori lama yang kemudian disempurnakan.
  4. Sosiologi bersifat nonetis,artinya yang dipersoalkan bukan baik buruknya fakta,tetapi bertujuan untuk menjelaskan fakta-fakta secara analisis.
Adapun sifat-hakikat sosiologi sebagai berikut:
  1. Sosiologi termasuk kelompok ilmu-ilmu sosial yang objek studinya adalah masyarakat.
  2. Sosiologi bukan disiplin ilmu yang normatif,tetapi kategoris.Artinya sosiologi hanya membatasi diri pada apa yang trjadi dewasa ini dan bukan yang seharusnya terjadi.
  3. Sosiologi merupakan ilmu murni dan bukan ilmu terapan,artinya sosiologi bertujuan untuk mengembangkan ilmu secara teoritis.
  4. Sosiologi bersifat abstrak,artinya yang diperhatikan adalah bentuk dan pola-pola peristiwa dalam masyarakat.
  5. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum sehingga berupa ilmu umum.
Kegunaan dan tujuan mempelajari sosiologi:
  1. Dapat dijadikan alat dan sarana untuk memahami masyarakat tertentu (petani,pedagang, buruh,pegawai,komunitas keagamaan,militer,dan sebagainya,
  2. Sebagai alat untuk memahami struktur masyarakat,pola-pola interaksi,serta stratifikasi sosial.
  3. Hasil studi sosiologi terhadap kondisi masyarakat dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan suatu kebijakan (dari pemerintah,perusahaan,badan dunia,dan sebagainya).
  4. Hasil kajian sosiologi dapat dijadikan pertimbangan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
  5. Data-data masyarakat dapat membantu kegiatan pembangunan,mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi hasil-hasilnya. Sedangkan tujuan sosiologi adalah meningkatkan pemahaman terhadap ciri-ciri dan sifat-sifat masyarakat seta meningkatkan daya adaptasi diri dengan lingkungan hidupnya, terutama lingkungan sosial budayanya.Caranya adalah dengan mengembangkan pengetahuan yang objektif mengenai gejala-gejala masyarakat yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah sosial.

Tuesday, September 25, 2012

FULL Penjelasan Mobilitas Sosial - Materi Sosiologi

A.  Pengertian Umum :
  • Gerak sosial (Mobilitas sosial) adalah perubahan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan peran anggotanya. Mobilitas berasal dari bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Kata sosial yang ada pada istilah tersebut mengandung makna gerak yang melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok sosial. Jadi, mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain. Misalnya, seorang pensiunan pegawai rendahan salah satu departemen beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha dan berhasil dengan gemilang. 


Contoh lain, seorang anak pengusaha ingin mengikuti jejak ayahnya yang berhasil. Ia melakukan investasi di suatu bidang yang berbeda dengan ayahnya. Namun, ia gagal dan akhirnya jatuh miskin. Proses perpindahan posisi atau status sosial yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam struktur sosial masyarakat inilah yang disebut gerak sosial atau mobilitas sosial (social mobility) Pengertian menurut Ahli :  



  • Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya. • 

  • Kimball Young dan Raymond W. Mack, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. 

  • Dalam dunia modern, banyak orang berupaya melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih bahagia dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang peling cocok bagi diri mereka. Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda. Mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terkukung dalam status nenek moyang mereka. Mereka hidup dalam kelas sosial tertutup. Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi. 
    B. Bentuk-bentuk mobilitas sosial 

    Dilihat dari arah pergerakannya terdapat dua bentuk mobilitas sosial , yaitu mobilitas sosial vertikal dan mobilitas sosial horizontal. Mobilitas social vertical dapat dibedakan lagi menjadi social sinking dan social climbing. Sedangkan mobilitas horizontal dibedakan menjadi mobilitas social antarwilayah (geografis) dan mobilitas antargenerasi.

    1. Mobilitas vertikal
    Mobilitas Vertika : adalah perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau sekelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. Mobilitas vertikal mempunyai dua bentuk yang utama :

    • Mobilitas vertikal keatas
    • Mobilitas vertikal ke bawah
    A. Mobilitas vertical ke atas (Sosial Climbing) Sosial climbing adalah mobilitas yang terjadi karena adanya peningkatan status atau kedudukan seseorang
    Sosial climbing memiliki dua bentuk, yaitu :
    • Naiknya orang-orang berstatus sosial rendah ke status sosial yang lebih tinggi, dimana status itu telah tersedia. Contoh: A adalah seorang guru sejarah di salah satu SMA. Karena memenuhi persyaratan, ia diangkat menjadi kepala sekolah. 
    • Terbentuknya suatu kelompok baru yang lebih tinggi dari pada lapisan sosial yang sudah ada. Contoh: Pembentukan organisasi baru memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua dari organisasi baru tersebut, sehingga status sosialnya naik. 
    Adapun penyebab sosial climbing adalah sebagai berikut :
    •  Melakukan peningkatan prestasi kerja 
    • Menggantikan kedudukan yang kosong akibat adanya proses peralihan generasi
    B. Mobilitas vertikal ke bawah (Social sinking) Sosial sinking merupakan proses penurunan status atau kedudukan seseorang. Proses sosial sinking sering kali menimbulkan gejolak psikis bagi seseorang karena ada perubahan pada hak dan kewajibannya.

    Social sinking dibedakan menjadi dua bentuk :
    •  Turun nya kedudukan seseorang ke kedudukan lebih rendah. Contoh: seorang prajurit dipecat karena melakukan tidakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya. 
    • Tidak dihargainya lagi suatu kedudukan sebagai lapisan sosial. Contoh Tim Juventus terdegradasi ke seri B. 
    Penyebab sosial sinking adalah sebagai berikut.:
    •  Berhalangan tetap atau sementara.
    •  Memasuki masa pensiun. 
    • Berbuat kesalahan fatal yang menyebabkan diturunkan atau di pecat dari jabatannya. 
    2. Mobilitas horizontal 
    Mobilitas Horizontal adalah perpindahan status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam lapisan sosial yang sama. Dengan kata lain mobilitas horisontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat.

    Ciri utama mobilitas horizontal adalah tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosialnya.
    • Contoh: Pak Amir seorang warga negara Amerika Serikat, mengganti kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan Indonesia, dalam hal ini mobilitas sosial Pak Amir disebut dengan Mobilitas sosial horizontal karena gerak sosial yang dilakukan Pak Amir tidak merubah status sosialnya. 
    Mobilitas social horizontal dibedakan dua bentuk :
    • Mobilitas social antar wilayah/ geografis Gerak sosial ini adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah ke daerah lain seperti transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi.Cara untuk melakukan mobilitas sosial 
    • Mobilitas antargenerasi Mobilitas antargenerasi secara umum berarti mobilitas dua generasi atau lebih, misalnya generasi ayah-ibu, generasi anak, generasi cucu, dan seterusnya. Mobilitas ini ditandai dengan perkembangan taraf hidup, baik naik atau turun dalam suatu generasi. Penekanannya bukan pada perkembangan keturunan itu sendiri, melainkan pada perpindahan status sosial suatu generasi ke generasi lainnya. Contoh: Pak Parjo adalah seorang tukang becak. Ia hanya menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar, tetapi ia berhasil mendidik anaknya menjadi seorang pengacara. Contoh ini menunjukkan telah terjadi mobilitas vertikal antargenerasi. 
    Mobilitas antargenerasi dibedakan menjadi dua, yaitu mobilitas intragenerasi dan mobilitas intergenerasi.
    • Mobilitas intragenerasi adalah  mobilitas yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam satu generasi yang sama. Contoh: Pak Darjo awalnya adalah seorang buruh. Namun, karena ketekunannya dalam bekerja dan mungkin juga keberuntungan, ia kemudian memiliki unit usaha sendiri yang akhirnya semakin besar. Contoh lain, Pak Bagyo memiliki dua orang anak, yang pertama bernama Endra bekerja sebagai tukang becak, dan Anak ke-2, bernama Ricky, yang pada awalnya juga sebagai tukang becak. Namun, Ricky lebih beruntung daripada kakaknya, karena ia dapat mengubah statusnya dari tukang becak menjadi seorang pengusaha. Sementara Endra tetap menjadi tukang becak. Perbedaan status sosial antara Endra dengan adiknya ini juga dapat disebut sebagai mobilitas intragenerasi. 
    • Mobilitas Intergenerasi adalah perpindahan status atau kedudukan yang terjadi diantara beberapa generasi. 
    Mobilitas intergenerasi dibedakan menjadi dua yaitu:
    • Mobilitas intergenerasi naik 
    • Mobilitas intergenerasi turun Contoh : Kakeknya seorang bupati, bapaknya seorang camat dan anaknya sebagai kepala desa.(intergenerasi turun) 
    C. Hubungan Struktur Sosial dan Mobilitas Sosial 

    Seperti yang dijelaskan diatas bahwa mobilitas sosial merupakan perpindahan status ataukedudukan dari satu lapisan ke lapisan yanhg lain. Perpindahan tersebut terjadi dalam suatu struktur sosialyang berdimensi vertikal, artinya mudah-tidak nya seseorang melakukan mobilitas sosial tergantung dari struktur sosial masyarakatnya.

    1. Mobilitas sosial dalam sistem stratifikasi sosial terbuka

    Masyarakat yang memiliki sistem stratifikasi sosial terbuka memberi kesempatan pada para anggotanya untuk melakukan mobilitas sosial vertikal yang terjadi dapat berupa sosial climbing ataupun sinking. Dalam sistem stratifikasi soaial yang terbuka memungkinkan setiap anggota masyarakat bersikap aktif dan kreatif dalam melakukan perubahan-perubahab untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya
    Prinsip umum mobilitas sosial dalam masyarakat yang menganut stratifikasi terbuka adalah sebagai berikut:
    • Tidak ada satu pun masyarakat yang mutlak tertutup terhadap mobilitas sosial vertikal 
    • Seterbuka apapun suatu masyarakat terhadap mobilitas sosial, terkadang tetap ada hambatan-hambatan. 
    • Setiap masayarakat pasti memiliki tipe mobilitas sosial vertikal sendiri, tidak ada tipe yang berlaku umum bagi setiap masyarakat. 
    • Laju mobilitas sosial disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan yang berbeda-beda. 
    • Mobilitas sosial yang disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan, tidak menunjukkan adanya kecenderungan yang kontinu tentang bertambah atau berkurang laju mobilitas sosial.
    2. Mobilitas Sosial dalam Sistem Stratifikasi Sosial yang Tertutup 

    Pada masyarakat yang menganut sistem stratifikasi sosial tertutup kemungkinan terjadinya mobilitas sosial vertikal sangat kecil. Hal ini terjadi karena masyarakatnya lebih mengutamakan nilai-nilai tradisional. Contohnya, masyarakat suku Badui Dalam. Mereka lebih memilih menjaga nilai-nilai tradisional dan menolak adanya perubahan. Dari uraian diatas, jelas terdapat hubungan antara mobilitas sosial yang terjadi pada seseorang atau sekelompok orang dengan struktur sosial masyarakat tempat seseorang atau sekelompok orang tersebut berada.
    Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai berikut :
    • Perubahan standar hidup Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan mempengaruhi peningkatan status. Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Menejer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan. 
    • Perkawinan Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan. Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita tersebut. 
    • Perubahan tempat tinggal Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas. 
    D. Faktor-faktor Pendorong dan Penghambat Mobilitas Sosial 

    Faktor Pendorong Mobilitas Sosial : 
    A. Faktor Struktural
    Faktor struktural adalah jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi serta kemudahan untuk memperolehnya. Adapun yang termasuk dalam cakupan faktor struktural adalah sebagai berikut :
    •  Struktur Pekerjaan Disetiap masyarakat terdapat beberapa kedudukan tinggi dan rendah yang harus diisi oleh anggota masyarakat yang bersangkutan 
    •  Perbedaan Fertilitas Setiap masyarakat memiliki tingkat ferilitas (kelahiran) yang berbeda-beda. Tingkat fertilitas akan berhubungan erat dengan jumlah jenis pekerjaan yang mempunyai kedudukan tinggi atau rendah 
    •  Ekonomi Ganda Suatu negara mungkin saja menerapka sistem ekonomi ganda (tradisional dan modern), contoh nya di negara-negara Eropa barat dan Amerika. Hal itu tentu akan berdampak pada jumlah pekerjaan, baik yang bersetatus tinggi naupun rendah. 
    B. Faktor Individu Faktor individu
    adalah kualitas seseorang , baik ditinjau dari segi tingkat pendidikan, penampilan, maupun keterampilan pribadi. Faktor Individu meliputi :
    • Perbedaan Kemampauan Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Mereka yang cakap mempunyai kesempatan dalam mobilitas sosial. 
    • Orientasi Sikap terhadap mobilitas Banyak cara yang di lakukan oleh para individu dalam meningkatka prospek mobilitas sosialnya, antara lain melalui pedidikan, kebiasaan kerja, penundaan kesenangan, dan memperbaiki diri.
    • Faktor kemujuran Walaupun seseorang telah berusaha keras dalam mencapai tujuannya, tetapi kadang kala mengalami kegagalan. 
    C. Status Sosial 
    Setiap manusia dilahirkan dalam status sosial yang dimiliki oleh orang tuanya, karena ketika ia dilahirkan tidak ada satu manusia pun yang memiliki statusnya sendiri. Apabila ia tidak puas dengan kedudukan yang diwariskan oleh orang tuanya, ia dapat mencari kedudukannya sendiri dilapisan sosial yang lebih tinggi.

    D. Keadaan Ekonomi 
    Keadaan ekonomi dapat menjadi pendorong terjadinya mobilitas sosial. Orang yang hidup dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, misalnya daerah tempat tinggal nya tandus dan kekurangan SDA, kemudian berpindah tempat ke tempat yang lain atau ke kota besar. Secara sosiologis mereka dikatakan mengalami mobilitas

    E.Situasi Politik 
    Situasi Politik dapat menyebabkan terjadinya mobilitas sosial suatu masyarakat dalam sebuah negara. Keadaan negara yang tidak menentu akan mempengaruhi situasi keamanan yang bisa mengakibatkan terjadinya mobilitas manusia ke daerah yang lebih aman.

    F. Kependudukan (Demografi)
    Faktor kependudukan biasanya menyebabkan mobilitas dalam arti geografik. Di satu pihak, pertambahan jumlah penduduk yang pesa mengakibatkan sempitnya tempat permukiman, dan di pihak lain kemiskinan yang semakin merajalela. Keadaan demikian yang membuat sebagian warga masyarakat mencari tempat kediaman lain.

    G. Keingina Melihat Daerah Lain 
    Adanya keingina melihat daerah lain mendorong masyarakat untuk melangsungkan mobilitas geografik dari satu tempat ke tempat yang lain.

    H. Perubahan kondisi sosial 
    Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru.

    I. Ekspansi teritorial dan gerak populasi 
    Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk.

    J.Komunikasi yang bebas 
    Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas sertea efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.

    K. Pembagian kerja
    Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut.

    L. Kemudahan dalam akses pendidikan 
    Jika pendidikan berkualitas mudah didapat, tentu mempermudah orang untuk melakukan pergerakan/mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat menjadi peserta didik. Sebaliknya, kesulitan dalam mengakses pendidikan yang bermutu, menjadikan orang yang tak menjalani pendidikan yang bagus, kesulitan untuk mengubah status, akibat dari kurangnya pengetahuan.

    Faktor penghambat mobilitas sosial
    Ada beberapa faktor penting yang justru menghambat mobilitas sosial. Faktor-faktor penghambat itu antara lain sebagai berikut :
    • Kemiskinan Faktor ekonomi dapat membatasi mobilitas sosial. Bagi masyarakat miskin, mencapai status sosial tertentu merupakan hal sangat sulit 
    • Diskriminasi Kelas Sistem kelas terturup dapat menghalangi mobilitas ke atas, terbukti denga adanya pembatasab keanggotaan suatu orgnisasi tertentu dengan berbagai syarat dan ketentuan. seperti yang terjadi di Afrika Selatan di masa lalu, dimana ras berkulit putih berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada mereka yang berkulit hitam untuk dapat duduk bersama-sama di pemerintahan sebagai penguasa. Sistem ini disebut Apharteid dan dianggap berakhir ketika Nelson Mandela, seorang kulit hitam, terpilih menjadi presiden Afrika Selatan 
    • Perbedaan Ras dan Agama Dalam sistem kelas tertutup dapat memungkinkan terjadinya mobilitas vertikal ke atas. Dalam agama tidak dibenarka seseorang dengan sebebas-bebasnya dan sekehendak hatinya berpindah-pindah agama sesuai keinginannya. 
    • Perbedaan jenis kelamin (Gender) Dalam masyarakat, pria di pandang lebih tinggi derajatnya dan cenderung menjadi lebih mobil daripada wanita. Perbedaan ini mempengaruh dala mencapai prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesempatan dalam masyarakat. 
    • Faktor Pengaruh Sosialisasi yang Sangat kuat Sosialisasi yang sangat atau terlampau kuat dalam suatu masyarakat dapat menghambat proses mobilitas sosial. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai dan adat yang berlaku. 
    • Perbedaan Kepentingan Adanya perbedaan kepentingan antarindividu dalam sutu struktur organisasi menyebabkan masing-masing individu saling bersaing untuk memperebutkan sesuatu. 
    E. Saluran-Saluran Mobilitas Sosial 
    1. Angkatan Bersenjata Seseorang yang tergabung dalam angkatan bersenjata biasabya ikut berjasa dalam membela nusa dan bangsa sehingga dengan jasa tersebut ia mendapat sejumlah penghargaan dan naik pangkat.
    2. Pendidikan Pendidikan, baik formal maupun nonformal merupakan saluran untuk mobilitas vertikal yang sering digunakan, karena melalui pendidikan orang dapat mengubah statusnya. Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya merupakan saluran yang konkret dari mobilitas vertikal ke atas, bahkan dianggap sebagai social elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Contoh: Seorang anak dari keluarga miskin mengenyam sekolah sampai jenjang yang tinggi. Setelah lulus ia memiliki pengetahuan dagang dan menggunakan pengetahuannya itu untuk berusaha, sehingga ia berhasil menjadi pedagang yang kaya, yang secara otomatis telah meningkatkan status sosialnya 
    3. Organisasi Politik Seorang angota parpol yang profesional dan punya dedikasi yang tinggi kemungkinan besar akan cepat mendapatkan status dalam partainya. Dan mungkin bisa menjadi anggota dewan legislatif atau eksekutif 
    4. Lembaga Keagamaan Lembaga ini merupakan salah satu saluran mobilitas vertikal, meskipun setiap agama menganggap bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sederajat 
    5. Organisasi Ekonomi Organisasi ini, baik yang bergerak dalam bidang perusahan maupun jasa umumnya memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seseorang untuk mencapai mobilitas vertikal. 
    6. Organisasi Profesi Organisasi profesi lainnya yang dapat dijadikan sebagai saluran mobilitas vertikal, antara lain ikatan 
    7. Perkawinan Melauli perkawinan seseorang dapat menaikkan statusnya. Misalnya,seseorang wanita yang berasal dari keluarga biasa saja menikah dengan pria berstatus sosial ekonominya lebih tinggi. Hal ini menyebabkan naiknya status sosial nya sang wanita 
    8. Organisasi keolahragaan Melalui organisasi keolahragaan, seseorang dapat meningkatkan status nya ke strata yang lebih tinggi 
    Cara umum memperoleh status
    Secara umum terdapat dua cara yang dapat digunakan untuk memperoleh status social, yaitu melalui askripsi dan melalui prestasi 

    • Askripsi, yaitu cara memperoleh kedudukan melalui kelahiran, contohnya system kasta dan gelar kebangsawanan
    • Prestasi, yaitu cara memperoleh status atau kedudukan dengan usaha sendiri. 

    Cara khusus untuk menaikan status :

    • Perubahan tingkah laku Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktekkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Dia merasa dituntut untuk mengkaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya. Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilah-istilah asing. 
    • Perubahan nama Dalam suatu masyarakat, sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak ke atas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi. Contoh: Di kalangan masyarakat feodal Jawa, seseorang yang memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan "kang" di depan nama aslinya. Setelah diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesau dengan kedudukannya yang baru seperti "Raden"
    • Perubahan tempat tinggal Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.
    • Perubahan standar hidup Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan mempengaruhi peningkatan status. Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Menejer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan. 
    • Bergabung dengan organisasi tertentu Untuk meningkatkan statusnya seseorang dapat bergabung dengan organisasi tertentu , sebagai contoh bergabung dengan organisasi yang berkelas.
    G. Dampak Mobilitas Sosial 

    Setiap mobilitas sosial akan menimbul kan peluang terjadinya penyesuaian-penyesuaian atau sebalik nya akan menimbulkan konflik.
    Menurut Horton dan Hunt (1987), ada beberapa konsekuensi negatif dari adanya mobilitas sosial vertikal, di antara nya:
    1. Adanya kecemasan akan terjadi penurunan status bila terjadi mobilitas menurun.
    2. Timbulnya ketegangan dalam mempelajari peran baru dari status jabatan yang meningkat.
    3. Keterangan hubungan anatar anggota kelompok primer, yang semula karena seseorang berpindah ke status yang lebih tinggi atau ke status yang lebih rendah. 
    Adapun dampak mobilitas sosial bagi masyarakat, baik yang bersifat positif maupun negatif antara lain sebagai berikut.
    • Dampak Positif :
    1. Mendorong Seseorang untuk lebih maju Terbukanya kesempatan untuk pindah dari strata ke strata yang lain menimbulkan motivasi yang tinggi pada diri seseorang untuk maju dalam berprestasi agar memperoleh status yang lebih tinggi. 
    2. Mempercepat Tingkat Perubahan Sosial Masyarakat ke Arah yang Lebih Baik Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik. Contoh: Indonesia yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan.
    3. Meningkatkan Intergrasi Sosial Terjadi nya mobilitas sosial dalam suatu masyarakat dapat meningkatkan integrasi sosial.misalnya, ia akan menyesuaikan diri dengan gaya hidup, nilai-nilai dan norma-norma yang di anut oleh kelompok orang dengan status sosial yang baru sehingga tercipta intergrasi soaial. 
    • Dampak Negatif :
    1. Timbulnya Konflik Konflik yang ditimbulkan oleh mobilitas sosial dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu sebagai berikut. : 1) Konflik Antarkelas Dalam masyarakat terdapat lapisan-lapisan. Kelompok dalam lapisan tersebut disebut kelas sosial. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antarkelas sosial, maka bisa memicu terjadinya konflik antar kelas. 2) Konflik Antarkelompok sosial Konflik yang menyangkut antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya. Konflik ini dapat berupa: a. Konflik antara kelompok sosial yang masih tradisional dengan kelompok sosial yang modern b. Proses suatu kelompok sosial tertentu terhadap kelompok sosial yang lain yang memiliki wewenang 3) Konflik Antargenerasi Konflik yang terjadi karena adanya benturan nilai dan kepentingan antara generasi yang satu dengan generasi yang lain dalam mempertahankan nilai-nilai denga nilai-nilai baru yang ingin mengadakan perubahan.
    2. Berkurangnya Solidaritas Kelompok Penyesuaian diri dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam kelas sosial yang baru merupakan langkah yang diambil oleh seseorang yamg mengalami mobilitas, baik vertikal maupun horizontal. Hal ini dilakukan agar mereka bisa diterima dalam kelas sosial yang baru dan mampu menjalankan fungsi-fungsinya 
    3. Timbulnya Gangguan Psikologis Mobilitas sosial dapat pula mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, antara lain sebagai berikut. :
  • Menimbulkan ketakutan dan kegelisahan pada seseorang yang mengalami mobilitas menurun.

  • Adanya gangguan psikologis bila seseorang turun dari jabatannya

  • Mengalami frustasi atau putus asa dan malu bagi orang-orang yang ingin naik ke lapisan atas, tetapi tidak dapat mencapainya.

  •  http://sosiologi-sosiologixavega.blogspot.com/2011/05/bab_16.html