Showing posts with label Pengetahuan Umum. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan Umum. Show all posts

Friday, July 21, 2023

Metode Komunikasi Persuasif Dan Strategi Komunikasi Persuasif

Dalam komunikasi persuasif, peran seorang komunikator sangatlah penting dan berpengaruh. Komunikator harus memiliki nilai dan performa yang tinggi, yang dapat dicirikan dari kesiapan, kesungguhan, ketulusan, kepercayaan, ketenangan, keramahan, hingga kesederhanaannya dalam menyampaikan pesan. Komunikasi persuasif merupakan jenis komunikasi yang memiliki tujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku komunikan.

  • apabila bertujuan untuk mengubah sikap komunikan, maka proses persuasi harus berkaitan dengan aspek afektif.
  • apabila bertujuan untuk mengubah pendapat komunikan, maka proses persuasi harus berkaitan dengan aspek kognitif.
  • apabila bertujuan untuk mengubah perilaku komunikan, maka proses persuasi harus berkaitan dengan aspek motorik

Beberapa komponen untuk membangun komunikasi persuasif yang efektif diantaranya adalah sebagai berikut :
  • kredibilitas. Komunikator perlu menunjukkan diri sebagai pihak yang memang menguasai dan memahami topik atau obyek yang dibicarakan.
  • alasan. Komunikator harus dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan yang logis, serta mengaitkan penjelasannya dengan kebutuhan atau harapan komunikan.
  • emosi. Situasi yang nyaman dan menyenangkan akan memudahkan komunikator untuk membangun pengaruhnya. Memainkan emosi penting bagi komunikator untuk memahami dan mengenali komunikan atau audiens, sehingga dapat membangun kesamaan komunikasi, baik dalam hal verbal (penggunaan kata-kata) maupun non verbal (bahasa tubuh yang ditampilkan).

Metode atau Teknik Komunikasi Persuasif. Dalam komunikasi persuasif terdapat beberapa metode atau teknik persuasi yang dapat digunakan oleh seorang komunikator sehingga tujuan dari pengiriman pesan dapat diterima dan dipahami oleh komunikan. Untuk menguasai metode atau teknik persuasi, diperlukan faktor-faktor diantaranya adalah sebagai berikut :

  • mampu berpikir dalam kerangka acuan yang lebih beasar untuk penggunaan metode atau teknik yang tepat dalam suatu keadaan tertentu.
  • mampu menegakkan kredibilitas.
  • mampu berempati.
  • mampu menunjukkan perbedaan dengan sasaran.
  • mampu mengetahui saat-saat yang tepat untuk menggiring komunikan (audiens) pada pesan yang diberikan.
  • mampu mengetahui kapan alat bantu komunikasi digunakan. 

Beberapa metode atau teknik persuasi yang dapat dilakukan adalah :
  • metode partisipasi, yaitu mengikutsertakan komunikan atau audiens pada suatu kegiatan agar timbul saling pengertian diantara mereka.
  • metode asosiasi, yaitu penyajian pesan yang dihubungkan dengan suatu peristiwa yang menarik perhatian komunikan atau audiens.
  • icing device (penataan), yaitu menyajikan suatu pesan dengan menggunakan pendekatan emosi agar lebih menarik, dan dapat memberikan kesan yang tidak mudah dilupakan serta lebih menonjol dari pada yang lain.
  • pay-off idea (ganjaran), yaitu penyajian pesan yang mengandung anjuran, di mana apabila anjuran itu ditaati, pasti hasilnya akan memuaskan.
  • fear arousing, yaitu menyajikan pesan yang menimbulkan rasa kuatir atau takut apabila tidak mematuhi informasi-informasi yang disajikan tersebut.
Sedangkan menurut Effendi, metode dalam komunikasi persuasif adalah :
  • Asosiasi, yaitu penyajian pesan komunikasi dengan cara menumpangkannya pada suatu obyek atau peristiwa yang sedang menarik perhatian khalayak.
  • Integrasi, yaitu kemampuan komunikator untuk menyatukan diri secara komunikatif, baik secara verbal maupun non verbal, dengan komunikan.
  • Ganjaran (pay off idea), yaitu kegiatan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara menjanjikan hal yang menguntungkan atau menjanjikan harapan.
  • Penataan (icing device), yaitu upaya menyusun pesan komunikasi sedemikian rupa, sehingga enak didengar atau dibaca serta termotivasikan untuk melakukan sebagaimana yang disarankan oleh pesan tersebut. Penataan dalam kegiatan persuasi adalah seni menata pesan dengan imbauan emosional sedemikian rupa, sehingga komunikan menjadi tertarik perhatiannya.
  • Red Herring, yaitu suatu seni yang dipunyai seorang komunikator untuk meraih kemenangan dalam perdebatan dengan mengelakkan argumentasi yang lemah, kemudian mengalihkannya sedikit demi sedikit ke aspek yang dikuasainya guna dijadikan senjata ampuh dalam menyerang lawan. Metode atau teknik ini digunakan oleh komunikator pada saat berada dalam posisi terdesak.

Strategi Komunikasi Persuasif. Efektivitas komunikasi persuasif, selain ditentukan oleh komponen komunikasi persuasif tersebut di atas, juga ditentukan oleh strategi yang direncanakan. Strategi komunikasi persuasif merupakan perpaduan antara perencanaan komunikasi persuasif dengan manajemen komunikasi untuk mencapai suatu tujuan, yaitu mempengaruhi sikap, pendapat, dan perilaku komunikan atau audiens. Oleh karenanya, strategi yang dibuat harus mencerminkan operasional taktis, diantaranya menentukan siapa yang menjadi sasaran pesan, apa pesan yang akan disampaikan, mengapa harus disampaikan, di mana lokasi penyampaian pesan, serta apakah waktu yang digunakan sudah tepat.

Dalam mempertimbangkan strategi komunikasi persuasif yang akan diterapkan, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  • spesifikasi tujuan persuasi.  Komunikasi persuasif setidaknya memiliki tiga tujuan, yaitu : membentuk tanggapan, memperkuat tanggapan, dan mengubah tanggapan.
  • identifikasi kategori sasaran. Sasaran persuasi (komunikan/audiens) dapat diidentifikasikan berdasarkan umur, gender, pendidikan, pekerjaan, minat khusus komunikan, dan lain-lain. 
  • perumusan strategi persuasi. Langkah-langkah perumusan strategi komunikasi persuasi antara lain : pengumpulan dan analisa data, analisis dan evaluasi fakta, identifikasi masalah, pemilihan masalah yang ingin disampaikan dan dipecahkan, perumusan tujuan, perumusan alternatif pemecahan masalah, penetapan cara pencapaian tujuan, evaluasi hasil kegiatan, dan rekonsiderasi.
  • pemilihan metode persuasi yang diterapkan. Dalam pemilihan metode persuasi, ada tiga pendekatan yang bisa dilakukan, yaitu pendekatan berdasarkan media yang digunakan, sifat hubungan antara komunikator dan komunikan, serta pendekatan psikososial.
Sedangkan prinsip-prinsip dalam merencanakan strategi komunikasi persuasif yang perlu diperhatikan adalah :
  • prinsip identifikasi.
  • prinsip tindakan.
  • prinsip familiaritas dan kepercayaan.
  • prinsip kejelasan.
Menurut Ruslan, strategi persuasif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • informasi atau pesan yang disampaikan harus berdasarkan pada kebutuhan atau kepentingan khalayak sebagai sasarannya.
  • komunikator sekaligus mediator berupaya membentuk sikap dan pendapat yang positif dari masyarakat melalui stimulasi.
  • mendorong publik untuk berperan serta dalam aktivitas organisasi agar tercipta perubahan sikap dan penilaian.
  • apabila perubahan sikap dan penilaian dari publik dapat terjadi maka pembinaan dan pengembangan terus menerus dilakukan agar peran serta tersebut terpelihara dengan baik.
Metode dan strategi komunikasi persuasif tersebut dilakukan dengan maksud untuk mewujudkan  komunikasi persuasif yang efektif.

Semoga bermanfaat.

Thursday, February 18, 2021

Karakteristik, Fungsi, dan Tujuan Komunikasi Lintas Budaya Serta Hambatan Dalam Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya (cross cultural communication) merupakan proses di mana dialihkan suatu ide atau gagasan dari satu budaya ke budaya yang lain atau sebaliknya. Peralihan ide atau gagasan tersebut dapat terjadi antara dua kebudayaan yang terkait atau lebih, yang bertujuan untuk saling mempengaruhi satu sama lain, baik untuk kebaikan atau sebaliknya, atau bisa juga sebagai tahap awal dari proses akulturasi yaitu penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru.

Pembahasan komunikasi lintas budaya seringkali berkisar pada perbandingan perilaku komunikasi antar budaya (intercultural communication) dengan menunjukkan perbedaan dan persamaan yang berkaitan dengan :
  • persepsi. Sifat dasar persepsi dan pengalaman persepsi, peranan lingkungan sosial dan fisik terhadap pembentukan persepsi.
  • kognisis. Terdiri dari unsur-unsur khusus kebudayaan, proses berpikir, bahasa, dan cara berpikir.
  • sosialisasi. Berhubungan dengan masalah sosialisasi universal dan relativitas, serta tujuan-tujuan institusionalisasi.
  • kepribadian. Yang meliputi tipe-tipe budaya pribadi yang mempengaruhi etos dan tipologi karakter atau watak bangsa.
  • tujuan komunikasi lintas budaya.
Kebutuhan akan mempelajari dan memahami komunikasi lintas budaya semakin dirasakan perlu, oleh karena komununikasi lintas budaya merupakan pintu gerbang dalam mempelajari dan memahami komunikasi antar budaya.

Karakteristik Komunikasi Lintas Budaya. Terdapat beberapa karakteristik dalam komunikasi lintas budaya, beberapa diantaranya adalah :
  • bersifat dinamis, yaitu berkesinambungan dan berubah.
  • bersifat interaktif atau saling mempengaruhi.
  • berlangsung dalam konteks fisik dan sosial.
  • sosial.
  • temporal.

Fungsi Komunikasi Lintas Budaya. Komunikasi lintas budaya sangat penting, terutama dalam hal usaha untuk mencapai suatu hubungan kerja sama yang saling menguntungkan, seperti hubungan bilateral, trilateral, maupun multilateral. Secara khusus, komunikasi lintas budaya mempunyai fungsi sebagai berikut :
  • mengurangi ketidak-pastian komunikasi antar orang, antar suku, dan antar bangsa yang berbeda budaya.

Tujuan Komunikasi Lintas Budaya. Seperti halnya tujuan komunikasi pada umumnya, dalam komunikasi lintas budaya juga mempunyai beberapa tujuan utama, yaitu untuk :
  • mengubah sikap (to change the attitude).
  • mengubah opini atau pandangan (to change the opinion).
  • mengubah perilaku (to change the before).
  • mengubah masyarakat (to change society).

Hambatan Dalam Komunikasi Lintas Budaya. Menurut Chaney dan Martin dalam bukunya yang berjudul "Intercultural Business Communication", yang dimaksud dengan hambatan komunikasi adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Dalam komunikasi, hambatan seringkali bersumber pada :
  • faktor psikologis. Kondisi psikologis memiliki kekuatan untuk mempengaruhi secara positif dan negatif terhadap jalannya suatu komunikasi.
  • faktor ekologis. Ekologi atau lingkungan berkaitan erat dengan kekuatan-kekuatan eksternal yang mempengaruhi peserta komunikasi.
  • faktor mekanis. Berkaitan dengan teknologi atau media yang digunakan untuk berkomunikasi.

Tujuan komunikasi akan lebih mudah tercapai dan efektif apabila peserta komunikasi mempunyai persamaan atau homofili. Berkaitan dengan hal tersebut, terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi penghambat dalam komunikasi lintas budaya, yaitu :
  • perbedaan norma sosial. Keaneka-ragaman suku, bangsa, atau etnik di satu sisi membuka peluang untuk memperluas hubungan, tetapi di sisi lain keaneka-ragaman tersebut juga menjadi faktor penghambat dalam komunikasi.
  • etnosentrisme. Merupakan penilaian suatu kelompok masyarakat terhadap kebudayaan kelompok masyarakat lain dengan cara membandingkan atau menggunakan standar kebudayaannya sendiri.
  • stereotip atau prasangka. Seperti halnya etnosentris, stereotip merupakan suatu penilaian yang tidak berdasar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, stereotip diartikan sebagai konsepsi mengenai sifat suatu golongan masyarakat  berdasarkan prasangka yang subyektif dan tidak tepat.
  • perbedaan perspektif. Perspektif merupakan cara pandang terhadap suatu obyek, benda, peristiwa, atau realitas yang bergantung pada pengamatan (observasi) dan penafsiran (interpretasi) seseorang.
  • perbedaan pola pikir. Merupakan bagian dari kajian mental psikologis. Pola pikir berkaitan dengan pencairan kebenaran yang mengadalkan rasionalisme.
  • faktor bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi dapat menjadi hambatan utama komunikasi ketika di antara peserta komunikasi tidak memiliki persamaan bahasa.
  • faktor sintaksis dan semantik. Sintaksis adalah pengetahuan tentang tata bahasa. Sedangkan semantik adalah pengetahuan tentang pengertian atau makna yang sebenarnya. Hambatan sintaksis sering terjadi saat peserta komunikasi terpaku pada kaidah bahasa aslinya, sedangkan bahasa aslinya (asing) menentukan aturan atau tata bahasa yang berbeda.
  • ketidak-merataan pendidikan. Tidak meratanya tingkat pendidikan dan kesenjangan pendidikan di antara penduduk dapat menjadi faktor penghambat dalam komunikasi.
  • gegar budaya (cultural shock). Pada umumnya orang yang mengalami gegar budaya akan kurang dapat memahami beberapa hal mendasar yang terkait dengan cara-cara komunikasi.

Terlepas dari semua faktor penghambat tersebut di atas, yang menjadi faktor penghambat utama dalam komunikasi lintas budaya adalah faktor perbedaan budaya itu sendiri. Di samping itu, banyak pihak yang beranggapan bahwa hambatan-hambatan dalam komunikasi lintas budaya adalah sama dengan  hambatan-hambatan dalam komunikasi antar budaya, yaitu hambatan dalam proses komunikasi yang terjadi karena adanya perbedaan budaya antara komunikator dan komunikan, yang meliputi hambatan fisik, budaya, persepsi, motivasi, pengalaman, emosi, bahasa (verbal), non verbal, dan kompetisi.

Semoga bermanfaat.

Saturday, August 10, 2019

Sekilas Tentang Teori Negosiasi Wajah (Face Negotiation Theory)

Teori negosiasi wajah atau "face negotiation theory" merupakan teori gabungan antara penelitian komunikasi lintas budaya, konflik, dan kesantunan. Teori negosiasi wajah menyebutkan bahwa "wajah" sebagai fenomena universal yang meliputi seluruh budaya. Teori negosiasi wajah memberikan sebuah dasar untuk memperkirakan bagaimana manusia akan menyelesaikan konflik atau masalah berdasarkan wajah dalam suatu kebudayaan yang berbeda. Wajah dimaksudkan adalah mengacu pada "citra diri" seseorang di hadapan orang lain. Di mana hal tersebut melibatkan rasa hormat, kehormatan, kesetiaan, dan nilai-nilai lain yang semacam.

Teori negosiasi wajah digunakan untuk memahami bagaimana orang-orang dari budaya yang berbeda mengelola hubungan dan perbedaan pendapat. Sebagai contoh : 
  • dalam konflik, wajah seseorang yang terancam cenderung menyimpan atau mengembalikan wajahnya. Menurut teori negosiasi wajah, set perilaku komunikatif  seperti ini disebut dengan "facework". Facework dimaksud, antara budaya satu dengan budaya yang lain akan berbeda-beda. Sehingga teori ini menciptakan suatu kerangka budaya yang umum untuk memeriksa negosiasi facework. 

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa wajah merupakan gambaran yang diinginkan atau citra diri orang lain yang berasal dari dalam dirinya dalam sebuah situasi sosial. Karya wajah merupakan perilaku komunikasi manusia yang digunakan untuk membangun dan melindungi wajah mereka serta untuk melindungi, membangun, dan mengancam wajah orang lain.

Teori negosiasi wajah menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan konflik antar budaya. Bahwa dapat dirasakan, konflik yang terjadi sebenarnya berkisar pada tiga masalah, yaitu :
  • konten konflik, yaitu mengacu pada isu-isu substantif eksternal untuk individu yang terlibat.
  • relasional konflik, yaitu mengacu pada bagaimana individu-individu mengartikan atau ingin mengartikan tertutama terhadap hal-hal yang berhubungan dengan konflik tertentu.
  • identitas konflik, yaitu mengacu pada masalah isu-isu dari isu-isu identitas konfirmasi penolakan, rasa hormat menghormati, serta persetujuan ketidaksetujuan. 
Dari hal tersebut, teori negosiasi wajah memandang konflik, khususnya konflik antar budaya, sebagai situasi yang menuntut manajemen "facework" yang aktif dari kedua pihak yang saling berkonflik.

Teori negosiasi wajah, pertama kali diusulkan oleh Penelope Brown dan Stephen Levinson tahun 1978 untuk memahami bagaimana orang-orang dari budaya yang berbeda mengelola hubungan dan perbedaan pendapat. Penelope Brown dan Stephen Levinson dalam teori ini, menyebutkan bahwa "wajah" merupakan sebuah metafora untuk citra diri, yang berasal dari dua konseptualisasi China, yaitu Lien dan Mien-tzu, di mana :
  • Lien, merupakan moral wajah internal yang melibatkan malu, integritas, kehinaan, dan kehormatan masalah.
  • Mien-tzu, merupakan sosial eksternal wajah yang melibatkan pengakuan sosial, posisi, otoritas, pengaruh, dan kekuasaan.
Teori negosiasi wajah dari Penelope Brown dan Stepen Levinson didasari oleh "teori kesantunan" yang mereka kemukakan. Mereka berpendapat bahwa orang akan menggunakan strategi kesantunan berdasarkan persepsi ancaman wajah, yang berupa dua kebutuhan universal, yaitu :
  • positive face (wajah positif), yaitu keinginan untuk disukai dan dikagumi oleh orang-orang penting dalam hidupnya.
  • negative face (wajah negatif), yaitu merujuk pada keinginan untuk memiliki otonomi dan tidak dikekang.

Selanjutnya, Erving Goffman juga melakukan penelitian tentang teori negosiasi wajah. Erving Goffman menempatkan "wajah" dalam penelitian kontemporer Barat. Ia menyebutkan bahwa wajah adalah pusat perhatian bagi salah satu gambar proyeksi yang bersifat langsung dan spontan serta terikat dengan dinamika interaksi sosial. Menurut Erving Goffman, "facework" menunjukkan  tindakan yang diambil untuk menjaga konsistensi antara diri dan barisan masyarakat.

Pemikiran tentang teori negosiasi wajah kemudian dikembangkan oleh Stella Ting Toomey pada tahun 1988, dengan mengkonsepkan "wajah" sebagai rasa sosial individu yang diklaim menguntungkan diri sendiri di dalam konteks rasional dan jaringan. Stella Ting Toomey mengartikan "facework" sebagai kelompok komunikatif perilaku yang digunakan untuk membuat wajah diri dan untuk mengapresiasi, menantang, atau mendukung orang lain. Selanjutnya Stella Ting Toomey menjelaskan bahawa budaya memberi bingkai interpretasi yang lebih besar di mana wajah dan gaya konflik dapat diekspresikan dan dipertahankan secara bermakna. Wajah merupakan perpanjangan dari konsep diri seseorang.

Wajah merupakan konsep yang universal. Kebutuhan akan wajah ada di dalam semua budaya, tetapi terdapat berbagai perbedaan yang merepresentasikan budaya masing-masing dan semua budaya tidak tidak mengelolan kebutuhan wajah tersebut secara sama. Stella Ting Toomey berpendapat bahwa wajah dapat diinterpretasikan dalam dua cara, yaitu :
  • Face concern atau kepedulian akan wajah, hal ini berkaitan dengan baik muka seseorang maupun muka orang lain. Dalam face concern, terdapat kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain. 
  • Face need atau kebutuhan akan wajah, hal ini berkaitan dengan dikotomi keterlibatan. 

Wajah merupakan gambaran penting dalam kehidupan. Wajah juga merupakan sebuah metafora bagi citra diri yang diyakini melingkupi seluruh aspek kehidupan sosial. Penelitian Stella Ting Toomey tentang teori negosiasi wajah sangat dipengaruhi oleh teori kesantunan yang dikemukakan oleh Penelope Brown dan Stephen Levinson.

Semoga bermanfaat.

Friday, August 2, 2019

Prinsip Dan Strategi Pelaksanaan Komunikasi Lintas Budaya Serta Efektivitas Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya (cross cultural communication) merupakan bidang studi komunikasi yang memandang bagaimana manusia yang berbeda latar belakang budaya berkomunikasi. Komunikasi lintas budaya berfokus pada proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai macam budaya yang berbeda.

Dalam komunikasi lintas budaya terkandung beberapa asumsi, yaitu :
  • komunikasi lintas budaya dimulai dengan asumsi dasar bahwa terdapat perbedaan persepsi antara komunikator dan komunikan.
  • dalam komunikasi lintas budaya terkandung isi dan relasi antar pribadi.
  • komunikasi berpusat pada kebudayaan.
  • efektivitas lintas budaya merupakan tujuan pokok komunikasi lintas budaya.
  • gaya personal pempengaruhi komunikasi antar pribadi.
  • komunikasi bertujuan mengurangi tingkat ketidak-pastian.

Komunikasi lintas budaya banyak terjadi pada ranah komunikasi interpersonal untuk menjalin hubungan informal. Namun demikian, komunikasi lintas budaya juga tidak jarang digunakan dalam hubungan interkomunal dan internasional. Berkaitan dengan komunikasi interpersonal, De Vito menyebutkan bahwa terdapat 10 prinsip seni interaksi interpersonal yang dapat digunakan sebagai landasan dalam membangun komunikasi lintas budaya yang efektif, yaitu :
  • keterbukaan.
  • empati.
  • sikap mendukung.
  • sikap sportif.
  • kesetaraan.
  • percaya diri.
  • kedekatan.
  • daya ekspresi.
  • berorientasi kepada pihak lain.
  • manajemen interaksi.

Prinsip dan Strategi Pelaksanaan Komunikasi Lintas Budaya. Terdapat beberapa prinsip dalam menyusun perencanaan komunikasi lintas budaya, yaitu sebagai berikut :
  • prinsip keselarasan atau compatible.
  • prinsip kesesuaian dengan kebutuhan sasaran, terutama menjawab masalah kebutuhan berdasarkan tahap-tahap kebutuhan, yaitu kebutuhan biologis, sosiologis, dan psikologis.
  • prinsip pelaksanaan suatu proses belajar mengajar, yang bertujuan untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta kemampuan masyarakat yang menjadi sasaran.

Selanjutnya perencanaan komunikasi tersebut dilakukan dengan strategi sebagai berikut :
  • konsolidasi, yaitu memantapkan dan mengembangkan ketenagaan dan kelembagaan yang tangguh dan mendukung kerja proses komunikasi.
  • integrasi, yaitu menggalang keterpaduan kerja dengan lembaga atau pihak lain yang potensial untuk meningkatkan daya guna dan hasi guna perencanaan proses komunikasi.
  • implementasi, yaitu menerapkan metode dan teknik perencanaan proses komunikasi termasuk penyediaan sarana dan prasarana serta materi perencanaan.

Sementara menurut Porter dan Jain, strategi untuk meningkatkan efektivitas komunikasi lintas ataupun antar budaya adalah sebagai berikut :
  • memahami diri sendiri. Dengan memahami diri sendiri, seseorang dapat memposisikan diri dan tidak canggung dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok etnik atau masyarakat yang berbeda.
  • sediakan waktu, ketika terjadi ketidak-sepahaman dengan kelompok budaya lain.
  • penggunaan bahasa yang sama. Dengan menggunakan bahasa yang sama maka hubungan antar kelompok etnik akan berjalan dengan lancar.
  • perhitungan setting. Pada hakekatnya berkomunikasi dengan budaya etnik lain harus memperhitungkan situasi dan kondisi yang berlaku dan dipercaya oleh kelompok lain tersebut.
  • tingkatkan kemampuan berkomunikasi. Yaitu dengan cara mempelajari bahasa dan budaya kelompok lain tersebut.
  • tumbuhkan umpan balik. Maksudnya adalah memberikan kesempatan bicara kepada kelompok lain, sehingga tidak mendominasi pembicaraan.
  • kembangkan empati. Yaitu dengan memposisikan diri sendiri sebagai orang dari kelompok lain penting untuk meningkatkan hubungan.
  • perhatikan kesamaan dari budaya yang berbeda. Dengan tidak mempersoalkan perbedaan yang terdapat pada kelompok lain, maka akan dapat meningkatkan interaksi antar budaya.  
  • tanggung jawab etis dalam komunikasi. Perlunya menjaga etika dalam berkomunikasi dengan kelompok lain, hal tersebut untuk menghindari terjadinya sesuatu yang buruk atau tidak diinginkan dengan kelompok lain, seperti perselisihan, permusuhan, dan lain-lain.

Efektivitas Komunikasi Lintas Budaya. Efektivitas komunikasi lintas budaya merupakan suatu upaya yang dilakukan dalam proses komunikasi sehingga mempunyai efek atau berakibat berhasil guna yaitu memberikan hasil yang memuaskan. Beberapa konsep yang dikemukakan oleh para pakar komunikasi untuk mencapai efektivitas komunikasi lintas budaya adalah sebagai berikut :
  • komunikasi lintas budaya akan efektif, jika setiap orang yang terlibat dalam proses komunikasi bersedia meletakkan dan memfungsikan komunikasi dalam konteks kebudayaan tertentu.
  • efektivitas komunikasi lintas budaya sangat ditentukan oleh sejauh mana peserta komunikasi meminimalkan kesalahan paham atas pesan-pesan yang dipertukarkan.

Di sisi lain, efektivitas komunikasi lintas budaya dapat terwujud, apabila prinsip-prinsip komunikasi lintas budaya terpenuhi, yaitu :

1.  dari sisi para pihak yang berkomunikasi (personal) :
  • peserta komunikasi harus memiliki niat baik dan menunjukkan kemauan baik untuk berkomunikasi.
  • peserta komunikasi perlu memiliki pengetahan yang memadai tentang kebudayaannya sendiri.
  • peserta komunikasi mengembangkan harapan yang ringkas dan jelas terhadap isu-isu serta misi yang hendak diselesaikan.
  • peserta komunikasi bersedia menjelaskan maksud dan tujuannya dengan pesan yang mudah dimengerti.
  • peserta komunikasi harus yakin bahwa para pihak memahami peran mereka masing-masing untuk menjalin saling pengertian.
  • masing-masing pihak harus bersedia untuk bersikap terbuka dan bersabar untuk mencapai tujuan komunikasi sebagai hasil komunikasi yang diharapkan.

2. dari sisi proses komunikasi :
  • proses komunikasi yang terjadi harus dua arah.
  • masing-masing pihak harus bersedia untuk meluangkan waktu dalam rangka mengupayakan proses komunikasi yang kondusif.

Menurut Sitaram dan Cogdell, efektivitas komunikasi lintas budaya ditentukan oleh kemampuan komunikator dalam melakukan komunikasi yang menghadapkan masalah perbedaan budaya. Beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh pelaku komunikasi lintas budaya adalah sebagai berikut :
  • menyampaikan semua maksud dan isi hati dengan cara dan gaya berkomunikasi yang jelas dan baik.
  • berinteraksi dengan baik dengan menunjukkan sikap bersahabat dan menyenangkan, sehingga mendorong komunikan untuk berkomunikasi.
  • menyesuaikan diri dengan budaya komunikan, meskipun tidak mudah untuk dilakukan.
  • berbahasa verbal dan non verbal yang mudah dipahami oleh komunikannya.
  • menjaga keseimbangan antara interaksi, relasi, dan komunikasi dengan mereka yang berbeda budaya sehingga hubungan tetap terpelihara dengan baik.

Sedangkan Hammer berdasarkan penelitian yang dilakukannya menyebutkan bahwa terdapat tiga tema sentral yang dapat mendukung efektivitas komunikasi lintas budaya, yaitu sebagai berikut :
  • keterampilan dalam berkomunikasi.
  • kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tekanan antar budaya.
  • kemampuan untuk membangun relasi-relasi antar budaya.

Semoga bermanfaat.

Wednesday, July 31, 2019

Pengertian Komunikasi Lintas Budaya Serta Perbedaan Komunikasi Lintas Budaya Dengan Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi lintas budaya atau cross cultural communication merupakan bidang studi komunikasi yang berakar dari studi antropologi budaya, yang mengkaji dan memandang bagaimana manusia yang berbeda latar belakang budaya berkomunikasi.

Komunikasi lintas budaya merupakan kajian komunikasi yang berfokus pada perbandingan praktik-praktik komunikasi yang terjadi di berbagai budaya. Salah satu dimensi yang digunakan untuk menjelaskan perbandingan (persamaan dan perbedaan) tersebut dalam level kultural dan individu adalah dimensi individal dan kolektif. Bentuk-bentuk komunikasi lintas budaya selanjutnya memiliki perbandingan berdasarkan peran individu dalam budaya vertikal dan horizontal.
  • budaya vertikal merupakan budaya yang bersifat dari atas ke bawah, yaitu dari orang yang memiliki posisi lebih tinggi kepada orang yang posisinya lebih rendah.
  • budaya horizontal merupakan budaya yang bersifat sejajar di antara orang-orang yang memiliki posisi yang setara.
Sehingga, komunikasi lintas budaya dapat diartikan sebagai proses di mana dialihkan suatu ide atau gagasan dari satu budaya ke budaya yang lain atau sebaliknya. Di mana peralihan ide atau gagasan tersebut dapat terjadi antara dua kebudayaan yang terkait atau lebih, yang bertujuan untuk saling mempengaruhi satu sama lain, baik untuk kebaikan atau sebaliknya, atau bisa juga sebagai tahap awal dari proses akulturasi yaitu penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru.

Pengertian Komunikasi Lintas Budaya Menurut Para Ahli. Pengertian komunikasi lintas budaya seringkali merujuk pada pengertian komunikasi antar budaya. Beberapa pengertian komunikasi lintas budaya menurut pendapat para ahli diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Maletzke, berpendapat bahwa komunikasi lintas budaya merupakan proses perubahan mencari dan menemukan makna antar manusia yang berbeda budaya.
  • P. Clint Rogers, berpendapat bahwa komunikasi lintas budaya merupakan suatu bidang studi yang meneliti beberapa cara yang dilakukan oleh manusia yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda untuk berkomunikasi dengan manusa yang lainnya.
  • Hafied Cangara, berpendapat bahwa komunikasi lintas budaya merupakan proses di mana suatu ide diberikan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku mereka.
  • Doris E. Cross, berpendapat bahwa komunikasi lintas budaya merupakan bidang studi yang tidak hanya terbatas pada mempelajari bahasa asing saja, tetapi juga termasuk mempelajari dan memahami bagaimana pola-pola budaya dan nilai-nilai inti. Pemahaman tersebut akan berdampak pada proses komunikasi, bahkan ketika semua orang berkomunikasi dengan bahasa yang sama.
  • Tatjana Takseva Chorney, berpendapat bahwa komunikasi lintas budaya merupakan proses komunikasi yang terjadi di antara anggota yang berbeda budaya di mana setiap nilai, pola berpikir, komunikasi dan perilakunya seringkali berlawanan dengan nilai-nilai, pola berpikir, dan perilaku yang lain.

Komunikasi lintas budaya mengandung beberapa asumsi, yaitu :
  • komunikasi lintas budaya dimulai dengan asumsi dasar bahwa terdapat perbedaan persepsi antara komunikator dan komunikan.
  • dalam komunikasi lintas budaya terkandung isi dan relasi antar pribadi.
  • komunikasi berpusat pada kebudayaan.
  • efektivitas lintas budaya merupakan tujuan pokok komunikasi lintas budaya.
  • gaya personal mempengaruhi komunikasi antar pribadi.
  • komunikasi bertujuan mengurangi tingkat ketidak-pastian.

Alasan Mempelajari Komunikasi Lintas Budaya. Komunikasi lintas budaya sangat penting terutama untuk mencapai satu pemahaman tentang pengertian dan kerja sama yang saling menguntungkan. Oleh karena itu, komunikasi lintas budaya perlu untuk dipelajari. Menurut Livin, terdapat beberapa alasan kenapa harus mempelajari komunikasi lintas budaya. Alasan-alasan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
  • semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota budaya tersebut meskipun nilainya berbeda-beda.
  • nilai-nilai setiap masyarakat sebaik nilai-nilai masyarakat lainnya.
  • dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keaneka-ragaman budaya sangat diperlukan.
  • pemahaman atas nilai-nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai budaya lain.
  • perbedaan-perbedaan individu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-pola budaya dasar yang berlaku.
  • dengan mengatasi hambatan-hambatan untuk berhubungan dengan orang lain, kita memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi, perasaan, dan masalah manusia.
  • semakin mengancam pandangan dunia orang itu bagi pandangan dunia kita semakin banyak yang harus kita pelajari dari mereka, tetapi akan semakin berbahaya untuk memahaminya.
  • perpindahan dari pandangan monokultural ke pandangan  multikultural terhadap interaksi manusia.

Perbedaan Antara Komunikasi Lintas Budaya dan Komunikasi Antar Budaya. Antara komunikasi lintas budaya dan komunikasi anta budaya keduanya memiliki pengertian yang hampir sama, tetapi di antara keduanya memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan antara komunikasi lintas budaya dan komunikasi antar budaya adalah sebagai berikut :

Komunikasi lintas budaya :
  • studi yang lahir dan berkembang dari studi antropologi budaya yang mempelajari proses komunikasi dalam berbagai budaya yang berbeda.
  • penelitian komunikasi lintas budaya pada umumnya bersifat komparatif.
  • lebih fokus pada perbedaan fenomena komunikasi dalam budaya antar individu.
  • lebih menitik beratkan pada hasil persilangan komunikasinya.

Komunikasi antar budaya :
  • studi yang menghubungkan komunikasi dengan budaya dan komunikasi lintas budaya termasuk di dalamnya.
  • merupakan bidang penelitian yang  baru.
  • merupakan komunikasi antar individu yang mempunyai tata cara hidup atau pola hidup yang berbeda.
  • lebih menitik-beratkan pada hasil persilangan antar budaya

Titik berat komunikasi lintas budaya atau cross cultural communication adalah proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai macam budaya yang berbeda. Komunikasi lintas budaya merupakan pintu masuk untuk memahami komunikasi antar budaya atau intercultural communication.

Semoga bermanfaat.

Monday, July 29, 2019

Pengertian Komunikasi Antar Budaya Dan Faktor Terjadinya Komunikasi Antar Budaya

Manusia adalah makhluk sosial, yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia yang lainnya. Cara berkomunikasi seseorang akan bergantung pada budaya (asal daerah, kebiasaan, dan lain-lain) dari orang tersebut. Hal itu dikarenakan :
  • budaya merupakan salah satu pembentuk karakter seseorang sejak lahir. 
  • budaya berperan dalam pembentukan cara-cara beriteraksi atau berkomunikasi dari tiap-tiap daerah, di mana masing-masing daerah memiliki karakteristik yang khas, yang berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. 
Oleh karena itu, komunikasi sangat erat hubungannya dengan budaya. Semakin beraneka ragam budaya, maka akan semakin beraneka ragam juga praktik-praktik komunikasi yang terjadi.

Komunikasi antar budaya, secara umum dapat diartikan sebagai proses komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih yang berbeda kebudayaan, yang dilakukan baik secara verbal maupun non verbal. Hamid Mowlana menyebutkan bahwa komunikasi antar budaya sebagai "human flow a cross national boundaries", yang dapat diasumsikan sebagai sekelompok manusia yang menyeberangi lintas budaya. Di mana komunikasi antar budaya akan terjadi ketika adanya komunikasi antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda untuk mencapai suatu tujuan komunikasi yang sama.

Pengertian Komunikasi Antar Budaya Menurut Para Ahli. Banyak ahli telah mengemukakan pendapatnya tentang apa yang dimaksud dengan komunikasi antar budaya, diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Sitaram, berpendapat bahwa komunikasi antar budaya adalah seni untuk memahami dan saling pengertian antara khalayak yang berbeda kebudayaan.
  • Liliweri, berpendapat bahwa komunikasi antar budaya adalah proses interaksi antar pribadi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda.
  • Stewart L. Tubis, berpendapat bahwa komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar orang-orang yang berbeda budaya.
  • Charley H. Dood, berpendapat bahwa komunikasi antar budaya adalah proses komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antar pribadi, dan kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.
  • Young Yun Kim, berpendapat bahwa komunikasi antar budaya adalah suatu peristiwa yang merujuk di mana orang-orang yang terlibat di dalamnya baik secara langsung maupun tidak langsng memiliki latar belakang budaya yang berbeda.
  • Guo Ming Chen dan William J. Starosta, berpendapat bahwa komunikasi antar budaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok. 
  • Andrea L. Rich dan Dennis M. Ogawa, berpendapat bahwa komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antar suku bangsa, antar etnik dan ras, dan antar kelas sosial. 
  • Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, berpendapat bahwa komunikasi antar budaya adalah proses komunikasi yang terjadi di antara prodeser pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda.

Faktor Terjadinya Komunikasi Antar Budaya. Komunikasi antar budaya dapat terjadi karena adanya beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai berikut :
  • mobilitas. Dewasa ini setiap orang dapat dengan mudahnya melakukan perjalanan dari satu negara ke negara lain. Hal tersebut dapat terjadi karena banyak faktor yang mendukung, seperti adanya transportasi, peluang bisnis, pendidikan yang memadai, dan lain-lain. Terjadinya mobilitas yang luas memungkinkan terjadinya penyatuan beberapa budaya dalam satu wilayah. 
  • ekonomi. Faktor ekonomi juga sangat mempengaruhi adanya komunikasi antar budaya. Dalam suatu perdagangan atau perpindahan pekerjaan antar daerah atau antar negara, akan mengakibatkan terjadinya penyatuan budaya dalam satu tempat.
  • teknologi. Teknologi terutama teknologi komunikasi telah berkembang dengan pesat dengan membawa serta budaya luar. Adanya jaringan internet semakin memudahkan kita berhubungan maupun untuk mengakses segala informasi yang berkaitan dengan budaya daerah ataupun budaya bangsa lain. Teknologi telah membuat komunikasi antar budaya menjadi mudah, praktis, dan tidak dapat dihindarkan.
  • pola migrasi. Pola migrasi sangat berpengaruh dalam budaya. Hal ini dikarenakan para pendatang akan membawa kebudayaan mereka masuk ke daerah-daerah tujuannya, sehingga dalam interaksinya dengan warga asli, mereka akan berusaha saling memahami budaya masing-masing
  • politik. Kepentingan politik juga mempunyai andil yang besar dalam terjadinya komunikasi antar budaya. Sebagai contoh, kunjungan pemimpin satu negara ke negara lain akan mendatangkan komunikasi antar budaya. 

Selain itu, komunikasi antar budaya dilakukan :
  • dengan negosiasi, untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antar budaya yang membahas satu tema yang sedang dipertentangkan. Penyampaian tema dimaksud terjadi melalui simbol, yang tidak sendirinya mempunyai makna tetapi simbol tersebut dapat berarti ke dalam satu konteks, dan makna-makna tersebut yang dinegosiasikan.
  • melalui pertukaran sistem simbolik, yang tergantung dari persetujuan antar subyek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama.
  • sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram tetapi bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi tersebut. 
  • sebagai penunjuk fungsi sebuah kelompok sehingga sehingga orang dapat membedakan dirinya dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.

Perbedaan Antara Komunikasi Antar Budaya dan Komunikasi Lintas Budaya. Antara komunikasi antar budaya dan komunikasi lintas budaya keduanya memiliki pengertian yang hampir sama, tetapi di antara keduanya memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan antara komunikasi antar budaya dan komunikasi lintas budaya adalah sebagai berikut :

* Komunikasi antar budaya :
  • merupakan komunikasi antar individu yang mempunyai tata cara hidup atau pola hidup yang berbeda.
  • lebih menitik-beratkan pada hasil persilangan antar budaya.

* Komunikasi lintas budaya :
  • lebih fokus pada perbedaan fenomena komunikasi dalam budaya antar individu.
  • lebih menitik beratkan pada hasil persilangan komunikasinya.
Semoga bermanfaat.

Sunday, July 28, 2019

Pengertian Komunikasi Asertif, Ciri-Ciri, Kelebihan, Serta Hambatan Komunikasi Asertif

Istilah komunikasi asertif merupakan penggabungan dari dua kata, komunikasi dan asertif. Komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Sedangkan asertif dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengungkapkan atau mengekspresikan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan, dan perasaan tanpa merusak relasi dengan orang lain.

Aspek-Aspek Asertif. Pada prinsipnya asertif merupakan bentuk kecakapan seseorang untuk berkata ya atau tidak, untuk mengekspresikan perasaan positf atau negatif, untuk melakukan inisiatif dan memulai pembicaraan, dan lain-lain dengan tetap menjaga hubungan baiknya dengan orang lain. Sehingga, perilaku asertif  dimaksud dapat dikategorikan menjadi beberapa aspek, yaitu :
  • asertif penolakan, yang berupa ucapan untuk memperhalus suatu penolakan. Misalnya dengan didahului dengan kata 'maaf'.
  • asertif pujian, yang berupa ekspresi perasaan positif. Misalnya memuji, bersyukur, mencintai, dan lain sebagainya.
  • asertif permintaan, yang berupa permintaan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu tanpa adanya tekanan atau paksaan.

Sedangkan menurut Kelly, perilaku asertif memiliki beberapa aspek, yaitu :
  • permintaan, yaitu kemampuan individu dalam mengemukakan haknya, meminta pertolongan dan tanggung jawab orang lain tentang suatu hal.
  • penolakan, yaitu kemampuan individu untuk menolak keinginan, ajakan, dan saran yang tidak sesuai dengan dirinya.
  • pengekspresian, yaitu kemampuan individu untuk berani mengekspresikan perasaan dan pikiran secara tepat.
  • pujian, yaitu kemampuan individu dalam memberikan pujian atau penghargaan secara tulus pada orang lain serta sikap individu yang sewajarnya dala menerima pujian dari orang lain.
  • berperan dalam pembicaraan, yaitu kemampuan individu untuk memulai atau berinisiatif dalam pembicaraan, ikut serta atau terlibat sekaligus dapat mempertahankan pembicaraan.

Pembentukan Perilaku Asertif. Menurut Rees dan Graham, perilaku asertif muncul disebabkan karena adanya unsur-unsur :
  • kejujuran (honesty). Perilaku asertif akan sulit diwujudkan jika seseorang tidak jujur, karena dengan kejujuran membuat orang lain mengerti, memahami, dan menghormati apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang yang bersangkutan.
  • kesadaran diri (self awareness). Untuk dapat menjadi asertif, seseorang mesti paham dan mengenal dirinya sendiri terlebih dahulu. Dengan demikian ia akan lebih mudah untuk memperhatikan, memunculkan, dan memikirkan cara-cara berperilaku yang diinginkan.
  • tanggung jawab (responsibility). Seorang asertif harus bertanggung jawab atas pilihan dan keputusannya tanpa menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada dirinya.
  • percara diri (self confident). Percaya diri merupakan bentuk keyakinan seseorang untuk mampu berperilaku sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan. 

Pengertian Komunikasi Asertif. Berdasarkan pengertian dari istilah komunikasi dan asertif tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi asertif merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain, dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Komunikasi asertif juga dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif tanpa terlalu banyak terganggu dengan apa yang orang lain pikirkan atau katakan.

Ciri-Ciri Komunikasi Asertif. Terdapat beberapa ciri-ciri dalam komunikasi asertif, yaitu :
  • mempunyai rasa percaya diri yang tinggi.
  • dapat berkomunikasi dengan semua orang.
  • mempunyai pandangan aktif tentang hidupnya.

Karakteristik Pesan Asertif. Pada dasarnya pesan asertif terdiri dari bagian, yaitu :
  • perilaku, merupakan deskripsi non penilaian dari sebuah perilaku yang diubah.
  • perasaan, merujuk pada perasaan asserter atau komunikator yang biasanya tidak dinyatakan secara langsung.
  • efek, merupakan klarifikasi dari sebuah efek perilaku orang lain terhadap asserter.

Sedangkan menurut Adler dalam bukunya yang berjudul "Understanding Human Communication" disebutkan bahwa suatu pesan asertif  yang lengkap terdiri dari lima bagian, yaitu :
  • diskrepsi perilaku, yaitu gambaran dari tujuan perilaku tanpa melakukan berbagai penilaian.
  • intepretasi yang diberikan terhadap perilaku orang lain. Sebuah pesan asertif mengekspresikan intepretasi komunikator, yaitu berpikiran positif mengenai arti perilaku orang lain.
  • deskripsi perasaan komunikator. Mengekspresikan perasaan menambah dimensi baru terhadap sebuah pesan sehingga pesan asertif menjadi lebih jelas.
  • deskripsi konsekuensi. Sebuah penyataan konsekuensi menjelaskan apa yang terjadi sebagai sebuah hasil perilaku yang digambarkan, intepretasi, dan perasaan. Terdapat tiga macam konsekuensi, yaitu : apa yang terjadi dengan pembicara, apa yang terjadi dengan pendengar, dan apa yang terjadi dengan orang lain.
  • pernyataan intensi komunikator, merupakan elemen akhir dalam bentuk pesan asertif. Pernyataan intensi dapat mengkomunikasikan tiga macam pesan, yaitu : posisi komunikator terhadap suatu isu, permintaan kepada orang lain, dan deskripsi tentang rencana tindakan di masa mendatang.
Pernyataan intensi sangat penting, karena jika pernyataan intensi mengalami kegagalan akan mengakibatkan orang lain merasa kesulitan dalam mengetahui dan memahami apa yang diinginkan oleh komunikator.

Teknik Komunikasi Asertif. Terdapat beberapa teknik dalam komunikasi asertif, yaitu :
  • empati atau validasi, yaitu mencoba untuk mengatakan sesuatu yang memperlihatkan pemahaman atau pengertian terhadap perasaan orang lain.
  • pernyataan masalah, yaitu suatu hal yang menggambarkan kesulitan yang dirasakan.
  • menyatakan apa yang dirasakan, yaitu suatu permintaan khusus untuk perubahan yang khusus dalam perilaku orang lain.

Kelebihan Komunikasi Asertif. Terdapat beberapa kelebihan dari komunikasi asertif, yaitu :
  • bebas dari konflik internal. Sikap asertif akan membuat seseorang terhindar dari tekanan dan konflik dari dalam dirinya sendiri, sehingga ia akan terhindar dari tekanan yang tidak perlu dari lingkungan.
  • meningkatkan rasa percaya diri. Komunikasi asertif membantu meningkatkan kepercayaan diri. Orang yang asertif berarti tidak ragu dalam menyuarakan pendapatnya.
  • membantu mengelola stress. Bersikap asertif akan membuat orang lebih mudah dalam mengelola stress. Hal ini dikarenakan orang yang asertif tidak akan menyesali apa yang telah dilakukan sebab telah menyuarakan apa yang menjadi pendapat dan keyakinannya. 
  • hidup yang tidak terikat dan bebas. Orang asertif selalu percaya dengan prinsipnya tanpa terlalu banyak terganggu dengan apa yang dikatakan orang lain. 

Hambatan Komunikasi Asertif. Sebagai suatu bentuk komunikasi, komunikasi asertif bukan berarti tanpa hambatan. Beberapa hambatan dalam komunikasi asertif diantaranya adalah sebagai berikut :
  • adanya perasaan tidak enak dengan orang lain. Maksudnya adalah kebanyakan orang mempunyai pikiran bahwa kita harus menyenangkan hati dan mengikuti keinginan orang lain, apabila tidak demikian maka akan menimbulkan kekacauan.
  • adanya keinginan untuk menjaga perasaan orang lain. Maksudnya adalah jika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak kita sukai atau bertentangan dengan pendapat kita, maka ada keinginan dari diri kita untuk diam atau bahkan menghindari komunikasi dengan orang tersebut.
  • adanya kekuatiran kehilangan sesuatu, bisa posisi atau jabatan, teman, dan lain-lain. 

Perilaku asertif tidak sama dengan perilaku agresif. Perbedaan yang paling pokok adalah bahwa orang yang asertif biasanya berani menyuarakan sesuatu yang menjadi pendapatnya dengan tetap menghargai orang lain. Komunikasi asertif juga akan menuntun seseorang untuk memutuskan antara mengatakan 'ya' atau 'tidak' untuk sesuatu tertentu. Pertanyaannya adalah apakah kita harus setiap saat dan kondisi bersikap asertif ? Jawabnya tentu saja 'tidak'. Menjadi asertif juga akan memunculkan potensi konflik. Kita tidak akan pernah sepenuhnya dapat mengendalikan respon lawan bicara kita. Jadi, jika setiap saat kita harus bersikap asertif, dapat dipastikan kita akan merasa lelah sendiri.

Semoga bermanfaat.